Berprestasi, Petani Kayangan Protes Mutasi Johan

Tanjung (Suara NTB) – Mutasi yang dilakukan Pemda KLU kepada salah satu pengamat pengairan, Johan Asmadi, dapat dikatakan blunder. Betapa tidak, Johan yang notabene pernah tercatat sebagai Pengamat Pengairan terbaik di Kabupaten Lombok Utara sangat disayang oleh para petani, khsusunya P3A Bagek Kembar, Kecamatan Kayangan. Akibatnya, puluhan warga mendatangi kantor bupati Lombok Utara, Rabu, 16 Mei 2018. Mereka mengajukan protes sekaligus meminta yang bersangkutan untuk dikembalikan.

Puluhan warga terlihat menggunakan satu unit truk yang diisi penuh oleh warga. Selain truk mereka juga menggunakan sepeda motor. Diperkirakan jumlah warga mendekati 100 orang. Aksi protes (hearing) itu sejatinya tidak terjadwal, namun masyarakat yang sudah merasa gerah dengan kebijakan Pemda, akhirnya langsung menyanggongi kantor bupati. Dengan berwakil sekitar 15 orang, warga akhirnya diterima oleh Wakil Bupati, Sarifudin, SH. MH., Sekda Lombok Utara, Drs. Suardi, MH., dan Kepala BKPSDM KLU, H. M. Najib, M.Pd., di ruang wakil Bupati.

Iklan

Sekretaris P3A Bagek Kembar, Bagiasah, mengatakan sejak Johan dipindah sebagai Staf di Kantor Camat Kayangan, pendistribusian air di tingkat P3A menjadi amburadul. Pihaknya selaku pengurus P3A kerap dituding oleh beragam pendapat masyarakat, sampai menerima tudingan P3A “menjual” air ke petani.

“Kami minta supaya Pak Johan dikembalikan. Kalau ini tidak direspons, nanti semua warga P3A akan datang lagi ke kantor bupati untuk demo,” ancamnya di hadapan Wabup.

Menurut warga, kinerja Johan sudah cukup baik. Tidak hanya pengaturan air yang cukup baik, tetapi pengamat pengairan itu dinilai mampu menjembatani kepentingan warga dengan Pemda. Salah satunya Johan memfasilitasi petani Kecamatan Kayangan untuk mengakses bantuan dari provinsi.

Kehadiran petani pengurus dan anggota P3A Kayangan mendapat dukungan dari pemerhati masyarakat, Asmuni Bimbo. Mendengar kekecawaan dan tuntutan warga, secara spontan Bimbo pun ikut menyeruak ke ruang Wabup. Ketua LSM GR 10.000 Lombok Utara itu lantas meminta agar Pemda KLU bersikap tegas dan tidak menganggap mutasi staf di tingkat bawah sebagai ajang mainan.

Tudingan Bimbo itu “berbalas pantun” dengan Kepala BKD, M. Najib di saat bersamaan. Namun bukannya persoalan menjadi lebih jelas, Bimbo malah lebih emosi. Akhirnya Wabup pun turun tangan.
Dengan nada rendah, wabup menyayangkan mutasi terhadap staf dengan keahlian khusus seperti pengamat pengairan tidak meminta pertimbangan atau saran ke dirinya selaku Wakil Kepala Daerah. Terlebih lagi, dirinya sebagai warga kecamatan Kayangan lebih memahami psikologi petani di kecamatannya daripada dampak yang mungkin terpikirkan oleh pejabat Sekretariat Daerah lainnya. (ari)