Bermukim di Gubuk Kumuh, HBK Peduli Intervensi Warga KLU

Tim HBK Peduli melihat kondisi rumah warga Lansia. Gubuk kumuh ini tetap dibiarkan berdiri, terletak di sebelah rumah baru yang dibangun. (Suara NTB/ist)

Tanjung (Suara NTB) – Setelah puluhan tahun mendiami gubuk kumuh, Amaq Limcip (75), warga Dusun Beriri Jarak, Desa Samik Bangkol, Kecamatan Gangga, bisa bermalam dengan nyaman. Program Sosial H. Bambang Kristiono (HBK) Peduli, mengintervensi kediaman milik warga tersebut dengan membangun sebuah rumah berukuran 4×5 meter.

Ukuran rumah tersebut terbilang kecil. Namun Tim HBK Peduli, membangunkan rumah ukuran tersebut karena yang bersangkutan tinggal sendiri, tanpa sanak famili.

Iklan

Tim Lapangan HBK Peduli, Alpat, mengatakan keputusan langsung mengintervensi warga, diambil manakala Tim HBK Peduli menyaksikan sendiri kondisi rumah warga. Puluhan tahun, Amaq Limcip tinggal di gubuk sederhana, tidak layak huni, juga kumuh dan tidak sehat.

“Kami bayangkan, kalau hujan pasti kehujanan. Apalagi lantai tempat tidurnya, beralaskan tanah,” ucap Alpat, usai serah terima bangunan kepada warga penerima, Minggu, 18 Juli 2021.

Tim HBK Peduli membangunkan rumah untuk warga secara swadaya. Dana atau material bangunan dikumpulkan dari kader-kader Gerindra. Ia sendiri, bertindak sebagai penanggung jawab lapangan untuk konstruksi rumah milik Amaq Limcip.

“Alhamdulillah, berkat kekompakan kawan-kawan di HBK Peduli, rumah selesai dalam 11 hari. Kami pastikan rumahnya standar RTG,” imbuhnya.

Untuk diketahui, Amaq Limcip tidak masuk dalam data warga penerima RTG. Pasalnya, gubuk yang ditinggalinya, kecil. Konstruksi juga seadanya. Tiang dari bambu, dengan dinding anyaman bambu yang sudah lapuk. Atap gubuk dari daun kelapa, kadang kalau bolong atau tembus air hujan, ditambal seadanya dengan limbah seng.

Kepala Dusun Beriri Jarak, Imasi, kepada wartawan mengakui, Amaq Limcip hidup sebatang kara. Ia tidak memiliki sanak famili yang masih hidup. Dengan kondisi jompo, berat bagi warganya untuk memperbaiki rumah ataupun ekonominya. “Orang tua kami ini tidak memiliki dokumen kependudukan, tidak punya sanak keluarga,” ucapnya.

Diakuinya, sebagai kepala dusun ia baru mengetahui kondisi warganya itu. Terlebih lagi, warganya tidak masuk dalam data calon penerima RTG, karena gubuknya tanpa katagori. Sedangkan, untuk mendapat intervensi program RTLH, menurutnya membutuhkan waktu sesuai mekanisme anggaran.

“Begitu saya datang dan melihat langsung, saya posting di Facebook. Alhamdulillah, ada HBK Peduli langsung merespon. Sebagai kepala kewilayahan, saya sangat berterima kasih HBK Peduli merespon dengan cepat,” tandasnya. (ari)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional