Berlanjut, Penutupan Seluruh Taman Wisata Alam

Penyemprotan TWA dengan disinfektan untuk mengurangi potensi risiko penularan Covid-19 (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi NTB memberlakuan kebijakan, menutup sementara seluruh Taman Wisata Alam (TWA) hingga batas waktu yang belum ditentukan. Penutupan seluruh TWA ini, berkaitan langsung dengan upaya pencegahan penularan virus Covid-19 di provinsi ini.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi NTB, Ir. Ari Subiantoro, M. P melalui Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Lugi Hartanto di ruang kerjanya, Jumat (15/5) kemarin mengatakan, sebelumnya, penutupan TWA rencanannya dilonggarkan pada April 2020 ini. Mengingat masih tingginya angka positif Covid-19 di NTB, kebijakan BKSDA memperpanjang masa penutupan. Hingga situasinya benar-benar dipastikan normal.

“Tidak boleh ada yang berkunjung ke TWA. Sudah tidak ada karcis. Yang ada hanya penjaga pos,” kata Lugi kepada Suara NTB. Terdapat sejumlah TWA di Lombok, dan Sumbawa. Di Pulau Lombok misalnya, TWA Suranadi, TWA Kerandangan, TWA Gunung Tunak, TWA Bangko Bangko, TWA Pelangan, dan TWA Tanjung Tampa. Sementara di Pulau Sumbawa, TWA Semongkat, TWA Danau Rawa Taliwang, TWA Laut P. Moyo, TWA Satonda, dan TWA Madapangga Bima.

Setiap taman wisata alam, masing-masing menyimpan beragam jenis flora dan fauna. Misalnya, TWA Suranadi, jenis flora yang terdapat di dalamnya antara lain Beringin (Ficus sp), Garu (Disoxilum sp), Terep (Arthocarpus elastica), Suren (Toona sureni), Kemiri (Aleurites moluccana), Purut (Parathocarpus venenoosa), Pulai (Alstonia scholaris) dan lain-lain.

Faunanya, kanopi hutan yang relatif rapat menjadikan lantai hutan lembab dan ditumbuhi aneka macam tanaman bawah. Sehingga, kondisi ekosistem demikian memicu melimpahnya serangga, kadal-kadal kebun dan aneka macam burung. Sementara pepohonan besar dengan percabangan yang banyak dan melimpahnya sumber makanan bagi hewan seperti kera, musang.

“Masing-masing TWA terkait potensinya. Kalau TWA konteksnya terkait wisata alam dan rekreasi alam yaitu selain wisata terkait edukasi, wisata alam terkait potensi keanekaragaman hayati, satwa liar juga kekhasan bentang alam pantai dan laut menjadi atraksi wisata di TWA. Sebagai contoh di TWA Kerandangan, selain hutan alami dan air terjun kita juga bisa belajar pengenalan dan pengamanan burung serta lutung,” kata Lugi.

Dari semua TWA, setiap tahun menghasilkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp650 juta. Dengan penutupan sementara TWA ini, potensi PNBP berkurang. Pemerintah juga melakukan pemangkasan anggaran untuk perbaikan infastruktur TWA. Anggaran dialihkan ke penanganan Covid-19. “Misalnya, di TWA Gunung Tunak, untuk pengaspalan jalan ditiadakan. Yang besar-besar dipangkas. Yang tersisa masih yang kecil-kecil, misalnya perbaikan pos,” demikian Lugi. (bul)