Berjamaah dalam Muamalah Melalui Global Wakaf

Beberapa pengelola warung wakaf menandatangani nota kesepahaman di kantor Cabang ACT NTB, Senin, 15 Oktober 2018. Disaksikan langsung oleh Branch Manager ACT NTB, Lalu Muhammad Alfian. (Suara NTB/IQBAL/ACT)

Oleh : Muhammad Iqbal Hidayat

Mataram (Suara NTB) – Penanggulangan bencana gempa Lombok tak dapat dilakukan dalam waktu yang singkat. Karena dalam proses ini, banyak hal yang perlu dipulihkan. Mulai dari permukiman masyarakat, hingga pemulihan ekonomi.

Pemulihan ekonomi dinilai sangat penting, karena berangkat dari ekonomi yang baik dan sehat, maka masyarakat yang terdampak gempa, akan berangsur-angsur membaik bahkan bisa lebih baik dari sebelum gempa.

Iklan

Hal ini yang mendasari Aksi Cepat Tanggap (ACT) mendirikan warung wakaf melalui Global Wakaf. Program ini, merupakan salah satu program pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi ritel. Dimana masyarakat mengelola warung yang didirikan oleh ACT.

Branch Manager ACT NTB, Lalu Muhammad Alfian dalam acara penandatanganan nota kesepahaman pengelola warung wakaf Lombok, pada Senin, 15 Oktober 2018 memaparkan, jika masyarakat menjalankan syariat Islam dengan sungguh-sungguh terutama bidang muamalah, pastilah masyarakat akan jauh lebih sejahtera.

“Terutama jika kita kelola dengan cara berjamaah. Akan banyak mendatangkan manfaat. Pengelolaan wakaf memang harus demikian. Dikelola bersama untuk kemaslahatan ummat,” ungkapnya.

Dia menambahkan, warung wakaf ini sendiri memiliki mekanisme pengelolaan sendiri. Dimana, ACT menjadi supervisor sementara kelompok masyarakat melalui pengelola masjid dan musala akan menjalankan aktivitas penjualan.

Nantinya, keuntungan akan dibagi, antara pengelola dengan infak yang langsung diberikan kepada masyarakat sekitar. Sehingga, warung wakaf ini tak hanya memberikan keuntungan bagi pengelola saja, namun warga yang memang membutuhkan di sekitar warung itu berdiri.

“Nantinya keuntungan akan dibagi kepada masyarakat sekitar. Karena ini tujuan umum dari Warung Wakaf ini bukan bisnis, namun kemanusiaan,” ungkapnya.

Warung ini, tidak memiliki rentan waktu pelaksanaan. Sehingga, jika pengelolaannya dilakukan secara baik dan benar, tentu akan mendatangkan banyak manfaat. Untuk menjaga kualitas pengelolaan yang ideal, ACT akan selalu mendampingi masyarakat, mulai dari ketersediaan barang dagangan, hingga sistem pengelolaan yang berbasis syariah.

Selain itu, warung yang pada tahap awal ini akan berdiri di 10 lokasi, yang tersebar mulai dari Lombok Utara, Lombok Timur, Lombok Tengah dan Lombok Barat ini, dalam beberapa waktu ke depan ditargetkan akan dapat peroperasi.

“Karena ini dikelola oleh pengurus masjid dan musholla, tentu kami harapkan masjid dapat menjadi pusat kebangkitan ummat. Mulai dari dakwah hingga muamalah, yang sesuai dengan tuntunan islam,” ungkapnya.

Sementara itu, salah satu warga pengelola warung wakaf, Dedi Haris Sandi memaparkan, warung wakaf yang nantinya akan dikelola oleh pengurus mushalla Nurul Huda NW Rampi Lombok Barat ini, akan menjadi penopang ekonomi masyarakat sekitar. Tak hanya bagi masyarakat pembeli, namun juga masyarakat yang memiliki warung-warung kecil di sekitar warung wakaf.

“Seperti yang dijelaskan, warung wakaf ini nantinya akan menjual barang dengan harga grosir dan akan membina warung kecil lain di sekitarnya. Sehingga, tidak akan merasa tersaingi, melainkan saling mengisi,” jelasnya.

Dia menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada ACT, yang selama ini hadir di Lombok mulai dari tanggap darurat gempa, pemulihan hingga masa rehabilitasi yang berbentuk warung wakaf ini.

Karena menurut Dedi, kebangkitan ekonomilah yang menjadi kekuatan kebangkitan pasca gempa. karena percuma masyarakat dibangunkan rumah yang baik, namun secara ekonomi, masyarakat belum sejahtera.

“Kami khawatirkan, nantinya akan ada kelangkaan bahan pokok, karena banyaknya masyarakat yang membutuhkan secara serentak. Namun, karena ada warung wakaf ini, rasa khawatir pun ini hilang,” ungkapnya.

Dia berkomitmen, warung wakaf ini tak hanya akan dijalankan pasca gempa ini saja. Namun hingga warung ini bisa melahirkan warung-warung lain yang bisa menyejahterakan semakin banyak masyarakat. (*)