Berdayakan Korban Bencana Gempa, Dosen dan Mahasiswa P.MIPA Unram Ciptakan Produk Olahan “Bonjebet”

Mahasiswa Program Studi Matematika FKIP Unram di bawah bimbingan Satutik Rahayu memperkenalkan produk olahan Bonjebet yang berasal dari daging buah jambu mete. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Gempa yang telah meluluhlantahkan Kabupaten Lombok Utara (KLU) masih menyisakan derita sampai sekarang.  Tidak terkecuali yang dialami oleh mahasiswa FKIP Unram yang berasal dari KLU.

Melalui Hibah Kompetisi Wirausaha (HKWM) Unram tahun 2018,  mahasiswa  program studi Pendidikan Matematika FKIP Unram di bawah bimbingan Satutik Rahayu, M.Pd mencoba mengolah daging jambu mete yang terkenal dikalangan masyarakat sasak dengan nama buah jambu jebet menjadi olahan makanan yang memiliki nilai ekonomis.

Iklan

Kepada Suara NTB,  Kamis (29/11),  Satutik Rahayu mengatakan ide membuat produk olahan Bonjebet berawal dari  hasil wawancara dengan beberapa masyarakat KLU yang menanam jambu mete.  Mereka mengatakan bahwa daging buah jambu mete hanya dibuang atau hanya untuk makan sapi.

“Melihat kondisi seperti itu,  maka saya beserta tiga mahasiswa dari Program Studi Matematika FKIP Unram mencoba mengolah buah jambu mete menjadi abon untuk camilan ataupun untuk lauk ,” Satutik Rahayu.

Buah jambu mete yang sebagian besar orang tidak mau memakannya dengan alasan buahnya sepat, takut kena getahnya karena  bikin gatal dan lain sebagainya ternyata di tangan tiga mahasiswa FKIP Unram, dibawah bimbingan Satutik Rahayu, M.Pd mampu membalikkan penilaian orang tentang buah yang satu ini.

Hasil olahan daging buah jambu mete ini melalui proses yang masih sederhana ternyata menjelma menjadi lauk ataupun camilan yang enak, dengan bumbu khas lombok yang disebut Bonjebet.

‘’Bonjebet” adalah nama yang unik singkatan dari Abon buah Jebet, berhasil masuk kompetisi Hibah Kompetisi Wirausaha (HKWM) Unram tahun 2018. Hasil olahan pertama ditester oleh para dokter relawan dan TIM SAR yang sebelumnya tidak dikasih tahu bahannya.

Mreka semua mengatakan bahwa makanan ini bahan bakunya adalah daging, karena tekstur dan rasanya mirip dengan daging. Begitu juga produk ini  telah ditester oleh dosen-dosen pendidikan Fisika Unram. “Mereka juga mengatakan bahwa rasanya mirip dengan daging, ” kata Satutik Rahayu.

Merasa hasil olahannya diterima oleh masyarakat,  maka dilanjutkan produksi dengan teknik pengemasan yang cantik agar menarik pembeli. Permintaan pasar meningkat dalam satu minggu ini sejak Bonjobet dikenalkan via Whatshap, Facebook , Instagram dan car free day Jalan  Udayana  Mataram sebagai media promosi.

Selama satu minggu,  kats Satutik Rahayu,  dirinya bersama dengan tim  telah memproduksi hampir 300 bungkus,  masih di bawah permintaan pasar.  “Kami kekurangan tenaga untuk memproduksi lebih banyak lagi,” kata Yogi,  Ketua Tim kewirausahaan.

Sedangkan Nupus salah satu anggota tim juga menambahkan bahwa masih terdapat beberapa kendala dalam pengolahan daging buah jambu mete. Di antaranya adalah alat-alat untuk pengolahan yang masih tradisional sehingga memakan waktu yang cukup lama.

Diharapkan ada yang mau mendampingi tim untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi ibu-ibu korban gempa terutama di KLU.  Melalui pengolahan daging buah jambu mete yang dapat diolah menjadi berbagai aneka olahan makanan.

Selain Bonjebet  juga dapat  dijadikan buah tangan para wisatawan yang datang ke Lombok.  Harapan ke depannya adalah mencari mitra yang bisa mendampingi tim Bonjebet dalam pengurusan PIRT sampai dengan sertifikasi halal. (nas/*)