Berburu Pelancong di Jalur Digital

Mataram (Suara NTB) – Seperti ruas yang ketemu buku. Begitulah pariwisata dan promosi digital dipertautkan. Dan pentingnya pertautan ini semakin mengakar di kalangan pelaku pariwisata di NTB. Di daerah ikon wisata halal ini, kebutuhan berinternet sebagai sarana promosi, tumbuh bak kecambah di tanah basah.

Provinsi NTB menjadi salah satu daerah di Indonesia yang menikmati manisnya madu promosi wisata berbasis teknologi digital ini.

Iklan

Tokoh Muda Pariwisata Indonesia, Taufan Rahmadi yang juga pernah menjabat Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Provinsi NTB menuturkan, gelombang perubahan strategi promosi wisata ini sudah dimulai beberapa tahun lalu.

Saat menjabat Ketua BPPD NTB, Taufan menyadari bahwa penggunaan platform digital sebagai ujung tombak promosi wisata NTB harus dimulai. Promosi di jalur digital, menurutnya adalah akan menghasilkan promosi yang aktif, cepat, dengan biaya murah.

“Selain itu, menyesuaikan dengan biaya promosi BPPD waktu itu,” ujarnya saat berbincang dengan suarantb.com, Rabu, 30 Agustus 2017.

Salah satu terobosan pertama yang ditempuh Taufan adalah menjalin kerjasama dengan Telkomsel. Taufan menyadari, ia membutuhkan sebuah operator yang memiliki infrastruktur jaringan digital terbaik. Dengan demikian, ia tidak akan menghadapi kendala teknis dalam menyebarluaskan konten-konten promosi pariwisata NTB.

Bentuk kerjasama yang ia tawarkan adalah bagaimana Telkomsel membantu BPPD NTB dalam mempromosikan pariwisata NTB. Gayung pun bersambut. Manajemen Telkomsel ternyata menyambut baik tawaran kerjasama ini.

“Saat itu, saya keliling ke provider-provider seluler. Yang paling serius menyambut tawaran kami ya Telkomsel itu,” kenang Taufan.

Saat kerjasama dimulai, hasilnya langsung terlihat, khususnya saat NTB masuk dalam nominasi World Halal Travel Award pada 2015.

Kala itu, Telkomsel membantu menyebarkan informasi ajakan untuk memilih Lombok, NTB sebagai destinasi wisata halal terbaik. Informasi ini disebarkan kepada seluruh pelanggan Telkomsel. “Bukan hanya di NTB, tapi di seluruh Indonesia. Itu dilakukan secara bertahap dan bergelombang. Kita dibantu penuh oleh Telkomsel, dan itu semuanya gratis,” ujar Taufan bersemangat.

Ketika Lombok, NTB telah masuk dalam nominasi lima besar, Taufan dkk pun berangkat menuju Abu Dhabi. Lagi-lagi, Telkomsel ikut mensponsori keberangkatan ini. “Segala macam bentuk komunikasi yang terjadi selama kami memberikan update tentang perkembangan vote, atau situasi di World Travel Halal Abu Dhabi, kami didukung oleh Telkomsel,” tuturnya.

Strategi kerjasama ini membuahkan hasil jauh melampaui ekspektasi awal. Tidak tanggung-tanggung, Lombok memborong dua penghargaan prestisius di ajang World Halal Travel Awards (WHTA) 2015, 20 Oktober 2015 lalu. Lombok didaulat sebagai Worlds Best Halal Tourism Destination (Destinasi Wisata Halal Terbaik Dunia) dan Worlds Best Halal Honeymoon Destination (Destinasi Bulan Madu Halal Terbaik Dunia).

“Ini menjadi bukti bahwa digital platform, digital marketing, adalah solusi berbiaya rendah tapi berdampak global,” ujar Taufan.

Taufan dan rekan-rekannya mengemas perpaduan apik antara strategi promosi digital dengan kekuatan komunitas. Strategi ini terwujud dengan pembentukan kanal-kanal media sosial seperti halaman facebook, yang kontennya disebar dan diramaikan oleh komunitas relawan berisi warganet aktif.

Awalnya, komunitas ini bernama relawan Wonderful Lombok Sumbawa. Namun, belakangan berubah nama menjadi Generasi Pesona Indonesia (GenPI). “Konsep volunteer ini saya presentasikan di kementerian pariwisata, dengan nama saya usulkan Generasi Pesona Indonesia,” ujarnya.

Koordinator GenPI Lombok Sumbawa, Siti Chodijah menjelaskan, GenPI merupakan wadah bagi para relawan pengguna internet aktif yang mau ikut berkontribusi memajukan pariwisata melalui media digital. Mengandalkan media sosial, GenPI Lombok Sumbawa mempublikasikan destinasi-destinasi, atraksi budaya, hingga event wisata ke banyak pengguna.

Saat ini, jumlah relawan GenPI Lombok Sumbawa telah menembus 200 orang. Dengan dukungan relawan sebanyak itu, konten promosi yang diunggah bisa mencatatkan jangkauan yang berlipat ganda. “Satu postingan kita bisa (menjangkau) sampai 30 ribu orang. Kalau media promosi manual, mungkin tidak sebanyak itu orang yang tahu,” tutur perempuan yang akrab disapa Mbak Jhe ini, Kamis, 31 Agustus 2017.

Meski punya kekuatan komunitas yang cukup besar, menggarap promosi digital tak semudah membalik telapak tangan.

Konten dan teknis promosi tidak boleh dikerjakan sembarangan. Para relawan harus berjuang membangun ketertarikan pengguna media sosial lain dan menjalin interaksi aktif-positif dengan warganet. Dengan demikian, konten yang mereka sebar akan lebih mudah mendapatkan sambutan positif.

Menurutnya, jika pemasaran jalur digital ini dikerjakan sembarangan, NTB akan sulit mengejar daerah lain yang sudah lebih dulu menjelajahi medan digital ini. “Bayangkan di tingkat nasional saja, persaingan untuk mempromosikan daerah destinasi ini cukup ketat. Kalau tidak masuk ke digital, mengemas dengan bagus, kita ketinggalan pasar.”

Keharusan untuk mengadaptasi metode promosi digital juga mulai dirasakan para pelaku bisnis pariwisata di NTB.

Ketua DPD Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (Asppi) NTB, Ahmad Ziadi menuturkan, saat ini para pelaku bisnis jasa pariwisata memang harus memanfaatkan teknologi digital untuk menjaring pelancong. Menurut Ahmad Ziadi, dulu dia dan rekan-rekannya mengandalkan ajang pertemuan para pelaku bisnis pariwisata lintas negara untuk menjaring wisatawan. Namun, kini, metode offline semacam itu sudah tidak lagi efektif.

“Sekarang semua harus migrasi ke online. Semua harus menggunakan media sosial. Facebook, instagram, twitter. Yang dulu nggak punya website sekarang harus punya website. Dan informasi harus tetap diupdate,” ujar pengelola jasa perjalanan wisata Logo Holiday ini, Kamis, 31 Agustus 2017.

Pergeseran ke platform promosi digital di sektor wisata ini diakui efektivitasnya oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Nusa Tenggara Barat Lalu Moh Faozal. Dalam berbagai kesempatan, Faozal mengutarakan bahwa penggunaan media digital seperti website, aplikasi, hingga  sosial media akan sangat efektif mendorong peningkatan angka kunjungan wisata.

Tren promosi digital juga terlihat hasilnya di atas kertas. Data yang dirilis Dinas Pariwisata NTB, angka kunjungan wisatawan ke NTB pada 2015 mencapai 2,2 juta. Jumlah ini naik menjadi 3 juta lebih pada 2016. Tahun ini, Pemprov NTB membidik angka 3,5 juta wisatawan.

Namun, menembus target tersebut tidaklah ringan. Taufan Rahmadi menyarankan, untuk meraih capaian lebih besar lagi, dibutuhkan kreativitas para pelaku bisnis pariwisata di NTB. Masyarakat di destinasi wisata, menurutnya juga perlu diedukasi untuk lebih aktif dan kreatif mempromosikan objek wisata di daerahnya melalui akun media sosial yang mereka miliki.

“Saya katakan bahwa kawan-kawan pelaku Industri di daerah, harus mulai membuat konten-konten kreatif, informatif, yang mampu membawa rasa ingin tahu dari orang luar terhadap daerah kita,” tegasnya. (aan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here