Berawal dari Hobi, Warga di Lobar Sulap Kelapa Kering Jadi Bonsai Bernilai Tinggi

Seorang perajin, Lalu Ivan Rasidi saat membuat bonsai dari kelapa kering.

Giri Menang (Suara NTB) – Bonsai kelapa menjadi salah satu hobi baru yang kini banyak digandrungi pencinta tanaman hias di Lombok. Selain keindahan yang bisa didapat, hobi ini juga bisa bernilai ekonomis jika diseriusi. Perajin bisa memperoleh keuntungan lumayan besar dari menjual bonsai ini. Hanya memang, proses pembuatan dan perawatannya membutuhkan kesabaran dan ketelatenan ekstra.

Seperti yang dilakukan Lalu Ivan Rasidi (36). Pria asal BTN Permata Hijau, Kelurahan Gerung Selatan, Kecamatan Gerung ini sudah setahun belakangan aktif menggeluti hobi ini. Ide ini disebutnya muncul saat ia melihat banyak buah kelapa kering tak dimanfaatkan. Selain juga pengaruh terlalu sering berada di rumah karena Pandemi Corona.

Ia pun mulai mencari cara agar buah ini tak terbuang sia-sia. Berbekal informasi dari laman di internet, ia mencoba sendiri proses pembuatan bonsai kelapa ini. ”Di internet muncul, ternyata kelapa kering bisa dibonsai, dan kemudian mulailah saya membuat bonsai kelapa,” jelas dia.

Proses pembuatan bonsai kelapa ini jelas pengurus Askab PSSI Lobar ini, dimulai dari mencari bahan-bahannya yakni kelapa kering. Nyaris seluruh jenis kelapa kering bisa digunakan, asalkan kondisinya masih baik. ”Kelapa kering ini kemudian dibersihkan sampai ke bagian batoknya, hanya menyisakan serabut di ujung saja, sebagai tempat tumbuhnya tunas,” lanjutnya.

Batok yang sudah dibersihkan, masih harus dihaluskan dan dipoles dengan vernis. Hal ini bertujuan agar batok tak pecah ketika proses pembonsaian. ”Setelah itu ditaruh di air, sampai tunasnya muncul. Prosesnya bisa sampai semingguan sampai tunas agak besar dan melengkung ke atas, dan akar muncul di bawah,” tuturnya.

Secara umum, bonsai kelapa disebut Ivan bisa menggunakan dua media tanam, air dan tanah. Pemilihan media ini, bergantung pada fokus pengembangan akar ataupun daun yang diinginkan pemilik bonsai. Penanaman bonsai di media tanah, disebut Ivan biasanya dilakukan untuk mengejar tampilan indah pada daun bonsai. Setelah akar dirasa kuat dan kokoh, biasanya bagian akar akan dibentuk dan dililitkan namun tak terlau berarti. ”Kalau di tanah itu daunnya pasti bagus bentuknya, mudah dibentuk,” ucapnya.

Sementara media air, biasanya dilakukan untuk mendapatkan tampilan akar yang lebih besar dan indah. Media ini biasanya menggunakan botol bekas air mineral, atau akuarium kaca yang diisi air di dalamnya, bonsai kelapa, diletakkan di bagian atas aquarium. ”Dengan air, akarnya akan menjuntai ke bawah, bentuknya juga bisa sangat disesuaikan. Untuk mempercantik, bisa juga ditambah ikan dan lampu,” tambahnya.

Dari kedua media tanam itu, bagi pemula, Ivan menyarankan untuk menggunakan media air. Selain tak terlalu ribet pada proses pemindahan, bonsai kelapa dengan media air biasanya akan lebih mudah dirawat.

Proses yang mendetail, baru dilakukan setelah daun mulai terlihat. Ivan menyebut proses ini dengan teknik sayat mawar. Yakni membuka serabut yang menutup daun dengan hati-hati dengan pisau khusus. ”Selain itu, daun yang sudah tumbuh harus terus dibentuk supaya bengkok, dengan ditekuk perlahan setiap hari,” lontar pria yang tercatat sebagai ASN di Pemkab Lobar ini.

Proses ini, bisa berlangsung selama berbulan-bulan hingga bentuk daun benar-benar sudah baik dan akar sudah kuat. Khusus untuk bonsai yang dijual, Ivan menyebut layaknya mulai usia 3-4 bulan. ”Di usia ini akar relatif mulai kuat, dan tua, jadi lebih tahan. Kalau harga mulai Rp150 ribu sampai jutaan rupiah, tergantung bentuk dan jenisnya,” pungkasnya.

Harga bonsai ini tergantung jenis dan motifnya. Motif bonsai ini bermacam-macam, seperti original, berbentuk mobil, motor, burung, ikan tergantung dari yang diinginkan oleh perajin maupun pemesan. Dari berbagai motif ini aku dia memiliki tingkat kesulitan berbeda-beda sehingga harga jual pun berbeda.

Ia menambahkan untuk membuat satu bonsai tidak butuh biaya besar. Proses pembuatan Bonsai ini pun terbilang lebih cepat dan mudah, dibandingkan Bonsai lain. Karena bahan bakunya tersedia di sekitar. Berbeda Kalau Bonsai lain harus pergi mencari bahan baku ke gunung. Untuk diketahui lanjut dia, untuk perajin dan penghobi Bonsai kelapa ini, sudah ada komunitas. Di Lombok ada 10 komunitas. Di Lobar, bahkan sampai ke tingkat kecamatan. Begitupula di tingkat pusat ada pengurus kelompok Pecinta Bonsai Kelapa Indonesia (PBKI). (her)