Berantas Pembalakan Liar Tidak Boleh Sporadis

Mataram (suarantb.com) – Kalangan anggota DPRD NTB pesimis penanganan pembalakan liar alias illegal logging yang akan dilakukan Pemprov NTB akan berhasil. Pemberantasan aksi illegal logging sampai ke akarnya dinilai akan sia-sia jika hal tersebut dilakukan secara parsial.

Hal tersebut dikatakan Anggota Komisi II DPRD NTB, Ir. Made Slamet, MM. Komisi yang membidangi masalah kehutanan ini  menanggapi langkah Pemprov yang akan melakukan upaya pemberantasan illegal logging di daerah ini.

Iklan

Kepada suarantb.com, Slamet menjelaskan dalam memberantas illegal logging atau pembalakan liar harus disiapkan terlebih dahulu strategis  garis besar pelaksanaannya.  Mulai dari cara pelaksanaan, capaian target jangka panjang, sampai hal-hal kecil yang menyebabkan hal tersebut terjadi. “Tidak bisa sporadis dalam menangani illegal logging. Harus ada grand design,” ujarnya, Selasa, 4 Oktober 2016.

Menurutnya, persiapan yang matang pada alur pemberantasan pembalakan, mulai hulu sampai ke hilir, harus disiapkan sebaik mungkin. Selain itu, harus ada target jangka panjang sebagai pegangan para pemangku kepentingan dalam menjalankan tugas dan fungsinya. “Saya pesimis kalau caranya sporadis. Ini kan sporadis namanya. Coba siapkan grand design nya, mulai dari hulu sampai hilir,” sarannya.

Politisi PDI Perjuangan ini juga menyayangkan upaya pemberantasan pembalakan liar dilakukan ketika persoalan tersebut sedang hangat. Di sisi yang lain, Slamet menyebut kemungkinan terjadinya main mata antara pejabat terkait dengan cukong menjadi masalah tersendiri yang membutuhkan keseriuasan aparat. “Jangan hanya berantas di hulu dong, di hilir juga. Pokoknya pemberantasan illegal logging itu harus komprehensif,” tambahnya.

Slamet mengakui permasalahan pengerusakan hutan tidak boleh dilihat sebagai permasalahan kecil. Sebab, ada dampak sangat panjang yang ditimbulkan rusaknya hutan. Oleh sebab itu, keseriusan pemerintah dalam upaya pemberantasannya juga harus dimulai dari sekarang.

“Hutan itu adalah sumber kehidupan, jadi kita harus menjaganya. Karena dampak oleh kerusakannya kan bisa banjir, kekeringan, buruknya kualitas udara. Hutan kita ini kayak kepala profesor. Di pinggirnya aja yang tumbuh, tengahnya botak,” sindirnya. (ast)