Bencana Longsor Terjang Pemukiman Warga di Desa Kalijaga Timur

Selong (Suara NTB) – Hujan deras disertai angin kencang yang terjadi pada Jumat, 10 November 2017 petang lalu menyebabkan longsor di wilayah Dusun Lendang Karang Desa Kalijaga Timur Kecamatan Aikmel. Dalam insiden ini, dua kandang kolektif serta empat ekor sapi milik warga tertimbun, satu di antaranya mati.

Jalaludin, salah satu warga setempat menuturnya, insiden tanah longsor terjadi sekitar pukul 14:00 wita. Saat kejadian, kondisi curah hujan cukup tinggi disertai angin kencang. Selain menimbun kandang yang berisi empat ekor sapi milik warga setempat, insiden tersebut juga menimpa rumah warga serta membuat warga setempat tidak berani tidur di rumahnya.

Iklan

Tanggul yang longsor tersebut merupakan proyek Pemerintah Desa Kalijaga Timur yang sekitar 2 bulan tuntas dikerjakan. Pasalnya, pembuatan tanggul itu menelan anggaran sekitar Rp 103 juta dengan panjang proyek 50 meter dan ketinggian 6 meter. Dalam musibah ini, tidak ada korban jiwa. Hanya saja, warga setempat diduga mengalami kerugian material hingga puluhan juta. Masyarakat menduga, pengerjaan proyek tidak sesuai spesifikasi.

Menurutnya, pengerjaan tanggul itu sebelumnya sempat ditentang oleh masyarakat setempat, karena bentuknya yang terlalu tegak dan memungkinkan mudahnya terjadi kerobohan. Akan tetapi, pada saat itu masukan-masukan dari masyarakat tidak diindahkan oleh para pekerja. Akibatnya, ketika musim hujan datang apa yang menjadi kekhawatiran masyarakat terjadi. “Kita sudah ingatkan supaya pembangunannya tidak terlalu tegak, tapi apa yang kami sampaikan tidak didengar,” keluhnya.

Sunaan, salah satu warga yang rumahnya di atas tanggul yang longsor mengaku khawatir dengan terjadinya longsor susulan. Untuk itu, ia berharap kepada pemerintah supaya secepatnya menyikapi hal tersebut. Selain Sunaan, terdapat enam rumah lainnya yang berjarak hitungan meter dari bibir pondasi proyek tersebut.

Terpisah, Kepala Desa Kalijaga Timur, Abdul Manan menjelaskan anggaran yang digelontorkan dalam pengerjaan proyek tersebut diklaim sudah sesuai dengan perencanaan. Hanya saja, pada saat dilakukannya penimbunan hingga 70 dump truck tidak menggunakan air. Sehingga begitu turun hujan, air banyak yang masuk, sehingga tembok tersebut tidak kuat menahan beban.

Disebutkan, panjang proyek itu yakni 50 meter dengan ketinggian enam meter dan total anggaran Rp 103 juta untuk konstruksi, sementara penimbunan masuk dalam penambahan anggaran.

Dalam pengerjaan proyek yang sumber anggarannya dari Dana Desa (DD) tahun 2017 ini, Abdul Manan menegaskan konsultan yang digunakan yakni pendamping desa, pendamping desa itulah yang sebagai patokan pemberi pengarahan dalam pengerjaannya.

Disinggung terkait penggunaan besi yang diduga sembarangan, Abdul Manan mengakui itu menjadi kelemahannya yang kurang melakukan kontrol. Namun, ketika pembuatan rangkap besinya cukup bagus. Kendati demikian, terkait dengan musibah tersebut, pihaknya berjanji akan segera melakukan koordinasi dengan BPBD serta melakukan pembangunan ulang terhadap pagar tersebut supaya kejadian serupa tidak terulang terjadi di kemudian hari. (yon)