Belum Tersentuh Bantuan, UMKM Babakan Masih Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

Usaha pembuatan roti di Babakan banyak yang belum tersentuh bantuan dari pemerintah.(Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pandemi Covid-19 berdampak luas terhadap berbagai bidang usaha. Namun UMKM di Babakan mampu bertahan di tengah kondisi yang tidak menentu ini. Berbagai upaya mereka lakukan untuk tetap survive. Salah satunya adalah mengurangi jumlah pekerja. Anggota DPRD Kota Mataram dari daerah pemilihan Sandubaya, Herman, A. Md., menyampaikan, UMKM di Babakan tetap bertahan secara mandiri. Meski ada bantuan dari pemerintah pusat, nyatanya masih banyak UMKM Babakan yang justru belum tersentuh.

Demikian dikatakan Herman kepada Suara NTB di Mataram, Kamis, 22 Oktober 2020. “Betul ada nama nya BPUM bantuan presiden untuk usaha mikro. Namun khusus pelaku UMKM Babakan masih belum tersentuh karena kurangnya informasi,” ungkap Herman.

Iklan

Anggota dewan yang berdomisili di Babakan ini mengaku, mendapat aduan dari masyarakat yang tidak tercover bantuan tersebut. “Saya sendiri tadi sore didatangi. Ada keluhan warga yang menyalahkan pihak kelurahan kurangnya sosialisasi informasi terkait hal tersebut,” ujar Herman.

Diberitakan sebelumnya, Menurunnya omzet usaha pembuat roti di Kelurahan Babakan, Sandubaya, Mataram dikeluhkan oleh pelaku usaha di wilayah tersebut. Penurunan sendiri terjadi sejak pandemi virus corona (Covid-19) masuk ke NTB sejak Maret lalu. Beberapa UKM di Babakan tersebut melakukan berbagai upaya untuk bisa bertahan.

Salah satunya mengurangi jumlah produksi dan jumlah pekerja karena tidak bisa membayarkan upah. Hal tersebut seperti dialami salah satu pemilik UKM pembuat roti di Babakan, Husna, yang mengurangi jumlah produksi karena permintaan untuk roti buatannya yang menurun sejak pandemi.

Dengan penurunan jumlah produksi tersebut, pendapatan bulanan dari usahanya mengalami penurunan drastis sejak enam bulan terakhir. “Pembelinya tidak ada. Sejak covid pembelinya berkurang, bisa sampai 50 persen dari (kondisi normal) biasanya,” ujar Husna. Diterangkan, saat ini dirinya hanya bisa mengakomodir jumlah produksi secukupnya. Antara lain untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan mencukupkan pembayaran upah pekerja.

Kendati demikian, dirinya berusaha untuk tidak melakuan pemutusan hubungan kerja (PHK) di tengah kondisi sulit saat ini. Hal tersebut dilakukannya karena melihat kebutuhan yang sama dari para pegawainya untuk bisa bertahan menghadapi pandemi yang terjadi. (fit/bay)