Belum Serius, Langkah Penanggulangan Kekeringan

Dompu (Suara NTB) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Dompu menilai penanggulangan bencana kekeringan di berbagai daerah terkesan tidak serius. Hal tersebut dilihat dari bantuan yang digelontorkan untuk manangani persoalan ini tidak sebanding dengan jumlah wilayah yang menjadi langganan kekeringan tiap tahunnya.

Kepala BPBD Dompu, Drs. Imran M. Hasan mengungkapkan, sekitar 15 Desa dari 8 Kecamatan di Kabupaten Dompu selalu menjadi langganan kekeringan. Sayangnya, Desa – Desa ini minim mendapat bantuan alat penanggulangan kekeringan. Seperti bantuan berupa sumur bor yang saat ini tengah dipersoalkan banyak pihak.

Iklan

Menurutnya, jika pemerintah benar – benar serius ingin mengentaskan masalah ini, seharusnya ada langkah bersama dalam penanggulangannya. Seperti penyiapan sumber mata air yang memadai dan tidak seperti penanganan sebelumnya yang hanya dilayani melalui mobil tangki. “Kalau disiapkan air menggunakan mobil tangki, itu tidak efektif,” katanya kepada Suara NTB saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu 19 Oktober 2016.

Imran menegaskan, pihak terkait dalam hal ini PDAM juga harus proaktif menyikapi persoalan tersebut. PDAM yang memiliki kewenangan untuk menjamin ketersediaan air bersih bagi masyarakat Dompu. Apakah persoalan itu menyangkut minimnya debit air yang dimiliki atau saluran pipa yang mengalami kerusakan. “Kalau masalah kekeringan itu, ya tergantung juga PDAM. Bagaimana mencari solusi masalah ini secara bersama agar tidak kembali terulang,” ujarnya.

Saat ini untuk wilayah Dompu beberapa bulan kedepan kebutuhan air bersih masih bisa terpenuhi. Jadi harus ada upaya pengadaan bantuan berupa sumur bor di titik terparah. “Nanti kita buatkan tandon di masing-masing Dusun sesuaikan dengan keperluan masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu terkait masalah tidak dimanfaatkanya sumur bor oleh masyarakat Nangadoro karena indikasi air sumur dalam itu mengandung zat kimia yang membahayakan kesehatan masyarakat sebagaimana diungkap salah seorang warga Nangadoro M Tayeb, beberapa waktu lalu. Imran menuturkan, terkait kekhawatiran masyarakat tersebut belum dapat dipastikan. “Kedalaman sumur itu 62 meter ke bawah. Jadi ndak ada belerangnya dan masyarakat juga sebelumnya sempat minum air itu,” tandasnya. (jun)