Belum Ada Laporan Lahan Pertanian Terdampak Banjir

H.Husnul Fauzi (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB belum mendapat laporan lahan pertanian yang terdampak banjir di Bima. Hal ini disampaikan, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, Ir. H. Husnul Fauzi, M.Si.

Di temui usai melakukan petemuan dengan gubernur, Husnul bahkan tak mengetahui adanya bencana banjir yang terjadi. “Belum tahu, belum dapat informasinya (karena banjir),” katanya.

Iklan

Berdasarkan laporan kejadian posko siaga banjir longsor dan bencana lainya tahun 2021 Pusdalop & TRC PB BPBD Kabupaten Bima dipaparkan, update laporan kejadian luapan banjir bandang Kecamatan Sanggar Kabupaten Bima.

Banjir terjadi pada Jumat 15 Januari 2021.Akibat hujan deras yang disertai angin kencang dengan durasi yang cukup lama menyebabkan terjadinya banjir bandang. Meliputi Desa Kore, Sandue, Taloko,  Boro, Piong dan Oisaro. Banjir tersebut, merendam sebagian besar pemukiman warga di Desa Kore, Boro, Sandeu,  Taloko dan Piong Kecamatan Sanggar dengan ketinggian +- 1 meter. Banjir juga diketahui berdampak terhadap lahan pertanian.

Hujan lebat berpotensi terus terjadi di NTB. Hal ini juga dikhawatirkan akan menggangu areal tanam pertanian padi yang sudah di mulai sejak Oktober 2020. Husnul Fauzi mengatakan, terhadap dampak yang diakibatkan pada lahan pertanian, harus dipastikan berdasarkan laporan statistiknya.

“Kami punya UPT Balai Perlindungan Tanaman Pertanian, kami akan minta dulu. Secara periodik kami akan laporkan kepada pimpinan (kepala daerah), kekeringan maupun banjir,” ujarnya.

Intensitas hujan yang turun, menurutnya tidak bisa juga diartikan sebagai ancaman atau potensi banjir. Yang juga bisa berdampak kepada lahan pertanian. Pada tahun 2015 lalu, terjadi la nina yang mengakibatkan terjadinya kerusakan produksi pertanian sampai 3 persen akibat bencana. Namun itupun dianggap tak signifikan. Sebab rasionya masih dibawah 7 persen dari total luas tanam.

Walaupun beberapa daerah di NTB menjadi langganan banjir, ia tegaskan pengaruhnya kecil. Tak signifikan. Masih dibawah 7 persen dan tak besar pengaruhnya terhadap produksi.

“bahkan pernah terdampak bencana 15.000 hektar. Tapi kalau dipersentasekan dengan lahan tanam 450.000 hektar misalnya, masih kecil sekali,” imbuhnya.

Pada tahun 2021 ini, target produksi padi NTB sebesar 1,6 juta ton. Target ini menggunakan acuan kerangka sampel area (KSA) berdasarkan perhitungan Badan Pusat Statistik (BPS).  Mengacu pada riwayat bencana banjir pada tahun-tahun sebelumnya, Pemprov tak khawatir dampaknya terhadap hasil produksi.

Lahan-lahan pertanian yang terdampak banjir, kerugian akan diminimalisir oleh asuransi petani. Selama memenuhi syarat diklaim ke perusahaan asuransi.(bul)

Advertisementfiling laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional