Belasan Ribu Hektar Kawasan Hutan di Sumbawa Dirambah Jagung

Tampak sejumlah warga menanam jagung di kawasan Hutan Lindung Lutuk Kuntung, Desa Ongko,  Kecamatan Empang, kabupaten Sumbawa. (Suara NTB/KPH Ampang Pelampang)

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Total luas kawasan hutan yang dirambah untuk menanam jagung khusus di wilayah KPH Ampang Plampang saja sekitar 17.705 hektare. Paling parah di Kecamatan Labangka dan Pelampang. Itupun belum termasuk wilayah KPH lainnya di Sumbawa. Sementara disisi lain, Dinas Pertanian kini berupaya menambah luasan areal jagung dengan target 125 ribu hektare untuk mengejar target prosuksi 1 juta ton pertahunnya.

Kepala KPH Ampang Pelampang, Julmansyah S.Hut, M.AP, ketika dihubungi Suara NTB, Senin, 7 Januari 2019 kemarin, menyebutkan, hampir semua kecamatan yang kawasan hutannya di wilayah KPH Ampang Pelampang, ada yang dirambah untuk penanaman jagung. Paling besar ada di Kecamatan Labangka dan Kecamatan Pelampang yang meliputi Desa Prode 1, Prode 2 dan Prode 3 yang dirambah sekitar tahun 2012-2013.

Iklan

Sementara Dinas Pertanian Sumbawa menurut Julmansyah, nyaris tidak ada koordinasi soal penanaman jagung ini. Harapannya, Dinas Pertanian ketika menyusun Rencana Detail Kebutuhan Kelompok (RDKK) harus mencantumkan koordinat lokasi. Kemudian ketika dilakukan Calon Petani Calon Lokasi (CPCL), lokasinya berkoordinat dan data koordinat diverifikasi bersama antara KPH dan UPT pertanian di tingkat kecamatan.

‘’Termasuk juga kalangan perbankan. Ketika akan menyalurkan  KUR (Kredit Usaha Rakyat) untuk jagung ke petani agar selektif melakukan verifikasi. Jangan hanya formalitas. Karena kami menemukan banyak petani yang menggunakan anggaran KUR perbankan yang digunakan dalam kawasan hutan,’’cetus Julmansyah.

Dari 17.705 hektare lanjutnya, seluas 1.000 hektar telah dikerjasamakan dengan CV. Sahabat Forestry untuk ditanami Kayu Sengon Salomon. Dan sejak akhir 2017 sampai sekarang telah ditanam lebih kurang 400 hektare hutan yang telah dirambah dan sekarang ditumbuhi Kayu Sengon Salomon di Desa Gapit dan Boal.

Salah satu strategi Balai KPH Ampang Pelampang untuk memberikan alternatif mata pencaharian petani selain jagung yakni dengan mengembangkan tanaman Porang dan Tanaman Serai Wangi. Tanaman Porang telah ditanam di sela-sela kayu Sengon Salomon seluas 10 hektare tahap pertama. Demikian pula tanaman Serai Wangi telah disebar sebanyak 48.000 batang hasil kerjasama KPH dengan Balai Perhutanan Sosial Kemitraan Lingkungan (PSKL) Wilayah Jabalnur di Denpasar. Sehingga dalam 2 atau 3 tahun ke depan di wilayah Balai KPH Ampang Pelampang akan dibangun industri pengelolaan Minyak Serai yang berasal dari kawasan hutan yang telah dimitrakan dengan petani.

Kenapa tanaman Serai? Tanaman ini ditanam sekali dan bisa dipanen setiap 3 bulan secara terus menerus tanpa biaya pupuk pestisida dan pembeli atau offtaker nya sudah ada di wilayah KPH Ampang Pelampang ini. ‘’Ini cara kami mengubah ketergantungan petani dari jagung. Padahal jagung itu biaya tinggi dan petani bisa terperangkap dalam jebakan utang perbankan. Sekarang saja sudah ada beberapa desa yang di-blacklist oleh perbankan akibat kredit macet di beberapa desa tersebut,’’ tukasnya.

Sementara itu Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan, Dinas Pertanian Sumbawa, Syaifuddin, menyebutkan, pihaknya menargetkan areal baku jagung tahun ini seluas 125 ribu hektar.  Untuk mengejar target 1 juta ton pertahun. Dengan asumsi produksinya minimal 8 ton perhektarnya.

‘’Untuk mencapai target itu, kami akan memaksimalkan potensi kering di sejumlah kecamatan, seperti Empang dan Pelampang. Tanpa merusak hutan. Kami juga sudah menegaskan untuk tidak menanam jagung di kawasan hutan. Atau wilayah perbukitan pada tingkat kemiringan tertentu. Tetapi kadang petani juga melanggar,’’akunya.

Dalam hal ini, pihaknya tetap berkoordinasi dengan Dinas Kehutanan NTB melalui Balai KPH yang ada di Sumbawa. Bahkan untuk data CPCL, juga dikroscek ke Dinas Kehutanan. Agar penanaman jagung tidak masuk dalam kawasan hutan. (arn)