Belasan Daerah Alami Kekeringan Ekstrem di NTB

Peta daerah di NTB yang mengalami kekeringan ekstrem (warna merah). BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat mencatat belasan daerah di NTB yang mengalami kekeringan ekstrem berdasarkan hasil monitoring hari tanpa hujan pada Dasarian III Juli 2020. (Sumber: BMKG Staklim Lombok Barat)

Mataram (Suara NTB) – BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat  mendeteksi belasan daerah di Dompu, Bima, Sumbawa dan Sumbawa Barat mengalami kekeringan ekstrem. Belasan wilayah tersebut terpantau sudah di atas 60 hari tak pernah turun hujan, sehingga dikategorikan kekeringan ekstrem.

Kasi Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat, Luhur Tri Uji Prayitno, SP, M. Ling, Jumat, 31 Juli 2020 menyebutkan, belasan wilayah atau kecamatan yang mengalami kekeringan ekstrem berdasarkan monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) dasarian III Juli 2020 dan perkiraan curah hujan dasarian I Agustus.

Iklan

Di Kabupaten Dompu, wilayah yang mengalami kekeringan ekstrem adalah Kempo, Pajo dan Kilo. Kemudian di Bima berada di Sape dan Wawo. Selanjutnya, di Sumbawa berada di Moyo Utara, Buer, Lape, Diperta Sumbawa, Moyo Hilir, Utan, Labuhan Badas, Batulanteh dan Kabupaten Sumbawa Barat di wilayah Brang Ene.

Selain itu, pihaknya juga mendeteksi puluhan daerah yang mengalami kekeringan sangat panjang, yaitu hujan tak pernah turun selama 31 – 60 hari terakhir. Tersebar di Lombok Barat, berada di Gerung dan Lembar. Kemudian  Lombok Timur di Sambelia, Wanasaba dan Jerowaru.

Selanjutnya,  Lombok Utara di Gangga dan Tanjung, Sumbawa di Alas Barat, Sumbawa, Terano, Empang, Plampang, Lenangguar, Alas dan Orong Telu, Sumbawa Barat di Jereweh, Maluk dan Sekongkang. Sedangkan Dompu di Huu dan Manggalewa, Bima di Bolo, Madapangga, Soromandi, Tambora dan Sanggar, serta  Kota Bima di Raba.

Ia mengharapkan, memasuki puncak musim kemarau ini, masyarakat NTB diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap adanya potensi kebakaran semak, lahan, hutan dan perumahan. ‘’Serta diharapkan juga agar masyarakat bisa lebih bijak menggunakan air bersih untuk menghindari dampak kekeringan,’’ pesannya.

Ia mengungkapkan, curah hujan di NTB pada dasarian III Juli 2020 didominasi oleh curah hujan dengan kategori rendah. Curah hujan tertinggi tercatat di Pos Janapria, Kabupaten Lombok Tengah sebesar 15 mm/dasarian.

Sifat hujan pada dasarian III Juli 2020 di Pulau Lombok dominan Bawah Normal, begitupun di Pulau Sumbawa umumnya didominasi Bawah Normal (BN). Hanya wilayah Sumbawa bagian selatan dan sebagian Sumbawa Barat yang memiliki sifat hujan Atas Normal (AN).

Monitoring HTH umumnya bervariasi dalam kategori sangat pendek  (1 – 5 hari) hingga kategori kekeringan ekstrim  di atas  60 hari. ‘’HTH terpanjang terpantau di Pos Hujan Kempo dan Pajo di Kabupaten Dompu sepanjang 72 hari,’’ sebutnya.

Luhur menjelaskan, hingga saat ini ENSO dan Dipole Mode masih terpantau kondisi netral dan masih diprediksi netral hingga akhir tahun 2020. Pola angin di dasarian II Juli, sudah kembali normal. Angin timuran sudah mendominasi hampir seluruh wilayah Indonesia. Pergerakan MJO hingga saat ini terpantau tidak aktif di wilayah Benua Maritim dan diprakirakan akan tetap tidak aktif hingga awal dasarian I Agustus 2020.

‘’Peluang terjadinya hujan pada dasarian I Agustus 2020 umumnya rendah. Curah hujan di bawah 20mm per dasarian umumnya berpeluang terjadi lebih dari 90 persen di seluruh wilayah NTB,’’ katanya. (nas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here