Belajar Tatap Muka, SMPN 13 Mataram Tidak Paksakan Orang Tua Beri Izin

Pengawas dan pembina sedang mendatangi SMPN 13 Mataram, Selasa 29 Desember 2020 untuk memastikan sekolah siap membuka pembelajaran tatap muka pada Januari nanti. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) -Kebijakan untuk pembukaan sekolah secara tatap muka pada Januari 2021 mendatang merupakan hasil dari Keputusan bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia tentang panduan penyelenggaraan pembelajaran pada tahun ajaran 2020/2021 di masa pandemi Covid-19.

Dalam keputusan itu, pemerintah menekankan bahwa pembelajaran tatap muka ini diperbolehkan, tetapi tidak diwajibkan. Pasalnya, keputusan ini dibuat untuk disesuaikan kembali dengan kebutuhan serta kondisi daerah masing-masing.
“Bahkan kondisi masing-masing sekolah kita juga berbeda-beda,” jelas Kepala SMPN 13 Mataram, Ahmad Saehu, Selasa, 29 Desember 2020.

Hal itu dikatakan Saehu saat menjelaskan hasil kesepakatan dengan MKKS Kota Mataram di SMP 24 Mataram beberapa waktu lalu. Dalam rapat bersama MKKS Kota Mataram diputuskan sekolah diberikan kemandirian untuk memutuskan membuka sekolah atau tidak. Hal demikian mengingat karakteristik sekolah yang berbeda.
“Sehingga pola dan metodenya berbeda tiap sekolah,” paparnya.

Dicontohkan Saehu, sekolah-sekolah yang terletak di Jalan Pejanggik yakni SMPN 1, SMPN 2 dan SMPN 15 Mataram punya karakteristik berbeda. Jika mereka serentak masuk, bisa dipastikan akan terjadi penumpukan siswa dan tentu saja mengakibatkan terjadi pelanggaran protokol kesehatan.

Melihat kondisi tersebut, tentu saja harus ada pola berbeda di setiap sekolah. Di samping itu yang tidak kalah penting ialah mendapatkan izin dari orang tua dan komite. Khusus untuk komite sekolah, SMPN 13 Mataram sudah mendapatkan izin.

Sementara untuk izin dari masing-masing orang tua murid, saat ini pihak sekolah tengah melakukan pengumpulan data. Sebelumnya pada saat pembagian rapor, pihak sekolah menyerahkan formulir surat pernyataan kesediaan orang tua untuk mengizinkan anaknya masuk belajar tatap muka.
“Pada saat pembagian rapor kita datangkan orang tua. Kepala sekolah sudah siapkan surat pernyataan untuk orang tua. Sekarang kita sedang memilih dan memilahnya,” jelasnya.

Ditambahkan, pihak sekolah tidak memaksakan orang tua harus menandatangani surat persetujuan. Jika orang tua tidak setuju, maka tidak jadi masalah. Sekolah tidak dalam posisi memaksa.

Hasil pemilihan surat pernyataan kesediaan itu nantinya, akan dikelompokkan oleh sekolah. Mana saja siswa yang diberikan izin masuk belajar tatap muka oleh orang tuanya dan mana saja siswa yang tidak diberikan izin. Bagi siswa yang diberikan izin, pihak sekolah secara teknis sudah sangat siap dengan segala protokol kesehatan Covid-19. Sedangkan siswa yang tidak diberikan izin juga sudah disiapkan alternatif pembelajaran. (dys)