Belajar Tatap Muka, Guru Perlu Jalani Tes Cepat

Seorang guru di Mataram melaksanakan kunjungan ke rumah murid untuk menyiasati ditutupnya belajar tatap muka secara langsung di sekolah, Kamis, 17 Desember 2020. Pemkot Mataram menyiapkan pembukaan kembali belajar tatap muka di Sekolah pada 5 Januari mendatang. Kendati demikian, berbagai persiapan untuk protokol kesehatan harus dilakukan oleh masing-masing sekolah baik tingkat TK, SD, maupun SMP.(Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Kesehatan (Dikes) Kota Mataram merekomendasikan dilakukannya tes cepat atau rapid test bagi guru yang mengajar di Kota Mataram. Hal tersebut dinilai penting untuk menekan potensi penularan virus corona (Covid-19) dari proses belajar tatap muka yang dimulai Januari mendatang.

“Kita menawarkan itu. Kalau memang ada niat mau dibuka (sekolah di Mataram), kami punya tanggungjawab moral bagaimana kalau dilakukan rapid test dulu kepada guru-guru yang akan mengajar di kelas sebagai upaya pencegahan (penularan),” ujar Kepala Dikes Kota Mataram, H. Usman Hadi saat dikonfirmasi, Kamis, 17 Desember 2020.

Dengan melakukan rapid test tersebut, penanganan bagi guru dengan hasil reaktif dalam dilakukan dengan segera. “Kalau kita lakukan (rapid test) sebelum membuka, ada yang raktif bisa diisolasi dulu untuk memastikan apakah dia orang tanpa gejala (OTG) atau bagaimana,” jelasnya.

Dikes Kota Mataram sendiri telah menyiapkan alat rapid yang dibutuhkan untuk pengecekan itu. Pelaksanaannya sendiri akan diserahkan di masing-masing puskesmas secara gratis.

Menurut Usman, rapid test terutama dibutuhkan bagi guru kelas yang akan berhadapan langsung dengan siswa. “Jadi bukan semua guru atau perangkat sekolah, tapi guru yang langsung bertemu anak-anak itu yang penting,” ujarnya.

Mengingat sebagian guru di Kota Mataram juga berasal dari luar kota, pihaknya akan merekomendasikan diterbitkannya kebijakan Walikota untuk penggratisan biaya rapid test bagi seluruh guru.

Sebelumnya, Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh, menekankan dimulainya proses belajar tatap muka di sekolah harus menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Pasalnya, hal tersebut menjadi salah satu pertimbangan Satgas Covid-19 Kota Mataram untuk menerbitkan rekomendasi.

“Kita tidak ingin muncul klaster baru di saat Kota Mataram ini setiap hari masih mampu melakukan pencegahan dan pengendalian angka kasus. Jadi sudah sangat landai, walaupun masih ada beberapa pasien positif,” jelasnya.

Beberapa yang perlu menjadi perhatian sekolah sebelum memulai pembelajaran tatap muka disebutnya antara lain ketersediaan fasilitas pendukung seperti masker, hand sanitizer, tempat cuci tangan, thermo gun, dan lain-lain. Selain itu, dibutuhkan persiapan untuk simulasi agar orangtua siswa tidak menumpuk di depan gerbang sekolah saat mengantar atau menjemput peserta didik.

Di sisi lain, bagi wali murid dan orangtua yang mengizinkan peserta didik untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka diharapkan bersifat kooperatif dengan melakukan pengecekan kesehatan. “Pemeriksaan langsung itu perlu juga. Kalau anak-anak ada yang sakit, supaya bisa langsung diperiksa dulu sebelum nanti ikut belajar tatap muka,” jelas Ahyar.

Proses belajar tatap muka di sekolah tingkat TK, SD, dan SMP akan dimulai pada 5 Januari 2021 mendatang. Untuk mempersiapakan hal tersebut simulasi akan segera dilakukan di beberapa sekolah yang ada. (bay)