Belajar Tatap Muka di Zona Kuning Disarankan Bertahap

Ilustrasi aktivitas belajar tatap muka.(Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Zona penyebaran Covid-19 yang ditandai dengan warna rentan berubah seiring bertambah atau berkurangnya pasien terkonfirmasi positif. Hal itu berpengaruh pada kebijakan pembelajaran secara tatap muka. Oleh karena itu, pembelajaran secara tatap muka di sekolah yang ebrada di zona kuning disarankan dilakukan secara bertahap dan selektif.

Seperti diketahui, berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri, sekolah yang boleh melaksanakan pembelajaran secara tatap muka adalah zona hijau dan kuning. Di NTB sendiri, sekolah jenjang SMA, SMK, dan SLB serta SD dan SMP di beberapa daerah yang sebelumnya berada di zona kuning sudah mulai menerapkan pembelajaran tatap muka terbatas. Namun, pada awal pekan ini, sembilan kabupaten/kota kembali berada di zona oranye, dan satu kota masuk zona merah.

Iklan

Wakil Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), yang juga dari Serikat Guru Mataram, Mansur Sipinathe pada Selasa, 17 November 2020 mengatakan, terkait pembelajaran tatap muka di zona kuning sebaiknya diterapkan secara selektif dan bertahap. Menurutnya, meski sudah zona kuning, seharusnya sekolah yang boleh tatap muka adalah sekolah yang memenuhi kesiapan protokol kesehatan Covid-19. Atau sekolah yang sebelumnya sudah melaksanakan simulasi tatap muka pada saat zona oranye.  “Sedangkan sekolah yang belum pernah simulasi harus melalui tahapan simulasi dulu,” katanya.

Ia menekankan, prinsip yang perlu dipegang adalah pemerintah, pemerintah daerah, satuan pendidikan, dan organisasi profesi harus memberikan perlindungan keamanan dan keselamatan kepada pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik.

Menurutnya, jika semua sekolah diperbolehkan tatap muka, maka tidak menutup kemungkinan ada sekolah yang belum memenuhi protokol kesehatan Covid-19, sehingga sangat rentan menjadi klaster baru penularan Covid-19. Pada akhirnya membuat satu wilayah menjadi zona oranye kembali.

Ia menyarankan, untuk sekolah di zona oranye kembali kembali menerapkan simulasi tatap muka. Sementara zona kuning sebagian tatap muka terbatas dan sebagian lagi simulasi tatap muka. “Satuan pendidikan di zona kuning maupun oranye yang tidak memenuhi kesiapan protokol Covid-19 tidak diperkenankan untuk tatap muka,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) NTB, Mohammad Mustari, MM., MA. Ph.D., mengatakan, jika ada perubahan zona penyebaran di satu daerah menjadi zona oranye atau merah, maka pembelajaran dilakukan secara BDR. “Pemerintah daerah harus mengembalikan pembelajaran secara BDR atau pembelajaran jarak jauh,” katanya.

Sementara itu, pihak sekolah mengharapkan pembelajaran secara tatap muka bisa terus dilaksanakan. Terutama dalam dekat akan dilaksanakan Penilaian Akhir Semester (PAS). Kepala SMAN 8 Mataram, Hj. Suprapti, pada Selasa, 17 November 2020 menyampaikan, kalau klaster tidak dari sekolah, diharapkan pembelajaran secara tatap muka dapat terus berlanjut. Terpenting tetap patuh pada protokol kesehatan.  “Sebentar lagi akan berlangsung Penilaian Akhir Semester ganjil. Setelah itu tergantung kebijakan dinas, sekolah mengikutinya,” katanya. (ron).

Advertisementfiling laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional