Belajar Tatap Muka Belum Diizinkan, Kepsek di Lobar Khawatir Sistem BDR Picu Pernikahan Dini

Dinas Dikbud Lobar bersama DP2KBP3A menggelar pertemuan dengan para kepala sekolah di Lobar membahas pernikahan dini.(Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Belum diizinkannya belajar tatap muka di Lombok Barat (Lobar) menimbulkan kekhawatiran di kalangan sekolah. Pasalnya pihak sekolah khawatir akibat kondisi belajar dari rumah, memicu terjadinya kasus pernikahan dini di wilayah setempat. Apalagi sampai saat ini terdapat sekitar 200 lebih anak menikah masih usia SMP.

Sekretaris Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Lobar, Erni Suryana mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan Dikbud dalam pencegahan pernikahan dini di Lobar. “Sejauh ini ada 200 lebih anak usia (di bawah usia 18) yang menikah, dari 400 lebih pernikahan di bawah 19 tahun,”jelasnya, Kamis, 15 Oktober 2020.

Iklan

Di antara dari 200 ini ada juga yang tidak sekolah. Sejauh ini data khusus anak SMP yang nikah dini tengah didata.

Kepala Seksi Pendidikan Dasar (Dikdas) pada Dinas Dikbud Ahmad mengatakan dalam upaya mencegah pernikahan dini di lingkup sekolah khususnya SMP pihaknya menerapkan luring. Artinya memaksimalkan guru menyapa siswa sekaligus mengingatkan orang tua. Pesan yang ditekankan, yakni menjaga kesehatan dari Covid-19. “Dan supaya anak-anak tidak menikah, berpikir supaya tidak menikah, dan anak-anak tidak liar dalam pergaulan,”tegas dia.

Luring sejauh ini hampir mencapai 90 persen di Lobar. Selain itu, daring juga diterapkan, namun lebih banyak luring. Apalagi, jelas dia, kondisi saat ini pernikahan dini tinggi namun perlu dilakukan pengelompokan baik SMP, madrasah maupun SD.

Pihaknya juga melakukan verifikasi belajar tatap muka di sekolah. Sasarannya empat SMP dulu, kalau lolos maka akan dibuka. Lalu dibuka lagi empat sekolah berikutnya. Dengan cara ini anak-anak bisa dikontrol oleh pihak sekolah dan guru menghindari kasus pernikahan dini ini. Langkah lain yang dilakukan, penilaian kepada kinerja kepsek adalah salah satunya tingkat putus sekolah dikaitkan dengan pernikahan dini. “Kalau banyak kasus maka merah kinerja kepsek ini,”tegas dia. (her)