Belajar dari Rumah, Sekolah Diminta Tidak Lepas Tanggung Jawab

Oryza Pneumatica Inderasari. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Persebaran aktivitas pembelajaran di masa pandemi oleh lembaga pendidikan disebut tidak merata. Ada sekolah yang menjalankan fungsi dengan mengubah metode pembelajaran meski intensitas interaksi berkurang. Ada juga sekolah yang memindahkan tanggungjawab pembelajaran pada orang tua siswa dengan membebankan tugas sepenuhnya pada pendampingan orang itu.

Hal itulah yang perlu menjadi perhatian agar Dinas Pendidikan dapat menguatkan peran dengan memastikan sekolah tidak melepas tanggung jawab pembelajaran. Sosiolog dari Program Studi Sosiologi Universitas Mataram (Unram), Oryza Pneumatica Inderasari, S.Sos, M.Sosio., mengatakan, sekolah harus tetap menjalankan fungsinya dengan mengganti media interaksi.

Iklan

Selain itu, Dinas Pendidikan dapat memberikan dukungan perangkat pembelajaran yang dibutuhkan pihak sekolah untuk mendukung tercapainya target pembelajaran, serta  mengontrol dan menjamin proses pembelajaran yang dijalankan oleh pihak sekolah dapat terlaksana dengan aman, nyaman, dan lancar.

“Saya berharap pula, situasi tidak normal ini menjadi stimulus untuk memunculkan inovasi dan kreativitas dalam dunia pendidikan,” katanya.

Ia juga menyebutkan ada pula sekolah yang memilih menghentikan total pembelajaran dengan alasan kesulitan berinteraksi dengan walimurid karena terbatas kuota atau jaringan internet. Sementara, ada juga orang tua siswa yang sebelumnya berbagi tanggungjawab dengan pihak sekolah dalam membimbing pembelajaran anaknya, kini gelagapan harus penuh waktu menjalankan fungsi pendidikan.

“Hal itu nampak pada anekdot, percakapan dan sebagainya yang bermunculan, baik di media sosial maupun di dunia nyata. Meskipun seharusnya orangtua idealnya harus membekali diri dengan ilmu pedagogi, di mana harus mampu menjadi ‘guru’ dalam pendidikan anak-anak, nyatanya tidak semua orang tua memiliki keterampilan mendekati anak dalam transfer ilmu pengetahuan,” urainya.

Selain itu, orang tua siswa bukan tidak mau mengajar anak, tapi bisa jadi karena ketidakpercayadirian orang tua atau keterbatasan-keterbatasan. Baik keterbatasan kemampuan maupun keterbatasan fokus dan waktu. Terlebih lagi banyak juga orangtua yang juga pekerja, harus menjalankan bekerja dari rumah yang menyita lebih banyak waktu dengan gawai di rumah.

  30 Jukir Liar Ditemukan Tim Penertiban Dishubkominfo

Hal itu, ujar Oryza, tidak dapat dibiarkan begitu saja. Diperlukan kesadaran bersama untuk satu gerakan merancang ulang literasi dalam situasi pandemi. “Sudah hampir tiga bulan kita menjalani situasi seperti ini, cukup bagi kita untuk beradaptasi dengan situasi dan merencanakan rencana aksi untuk memperbaiki situasi. Semua pihak punya tanggung jawab atas perannya, kembalikan fungsi masing-masing sesuai perannya. Semoga di semester ganjil Tahun Ajaran 2020/2021 ke depan hal itu sudah siap dengan formulasi baru,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Dikbud NTB, Dr. H. Aidy Furqan, S.Pd., M.Pd., menjelaskan, pihaknya menyiapkan dua opsi yaitu Belajar dari Rumah dan opsi kenormalan baru. Dua opsi yang dipersiapkan pihaknya yaitu mempersiapkan kenormalan baru dengan belajar dari rumah dengan menerapkan konsep daring, semi daring, dan konvensional khusus bagi siswa yang tidak memiliki fasilitas.

Opsi lainnya, menerapkan kenormalan baru di satuan pendidikan dengan pembelajaran tatap muka. Pola yang akan digunakan jika pembelajaran tatap muka dipilih yaitu menerapkan sistem sif atau blok, dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Ia menjelaskan, sistem sif itu, bahwa setiap kelas atau jenjang kelas bergiliran masuk ke sekolah. Pihaknya juga memasifkan pelayanan guru untuk mendorong siswa menghasilkan produk. Juga akan dipastikan guru memiliki jadwal pengajaran yang tidak tumpang tindih. Pihaknya juga akan mengombinasikan secara berimbang antara BDR dan tatap muka. (ron)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here