Begini Kondisi Gili Trawangan Pasca-Pembongkaran Bangunan di Roi Pantai

Tanjung (Suara NTB) – Februari lalu telah dilakukan penertiban bangunan di sepanjang roi Pantai Trawangan. Penertiban ini dimaksudkan untuk memberi lebih banyak ruang kepada wisatawan agar bisa menikmati keindahan pantai. Sebanyak 143 unit bangunan berupa kafe dan restoran dibongkar oleh Pemda Kabupaten Lombok Utara. Dua bulan berselang, kafe dan restoran kembali menjamur. Hanya saja, tidak menggunakan bangunan permanen.

Seakan tidak ada bedanya, pembongkaran yang menelan anggaran besar  itu masih menyisakan banyak hal. Beberapa sisa pembongkaran belum dibersihkan, beberapa kafe dan restoran kembali menaruh kursi dan meja di roi Pantai Trawangan.

Iklan

‘’Ini sudah lama, daripada tidak dimanfaatkan dan kosong mending ditaruh kursi dan meja jadi bisa mendatangkan keuntungan. Lagipula, kita tetap membebaskan siapapun keluar masuk karena zona ini milik umum,” kata salah satu pekerja di salah satu kafe di Gili Trawangan, Amirullah Adiputra kepada Suara NTB, Jumat (5/5).

Sebelumnya Bupati Kabupaten Lombok Utara pada saat pembongkaran 23 Februari lalu mengatakan bahwa pembongkaran itu bertujuan agar pemandangan pantai dapat dinikmati oleh semua orang. Keindahannya bisa lebih terlihat dengan tidak adanya bangunan-bangunan di sepanjang roi pantai. Namun, belakangan ini banyak pengusaha kembali menaruh kursi dan meja bahkan pembatas bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan Pantai Trawangan.

‘’Konsep dasarnya kan memang pantai itu milik publik, kalau sudah ditutupi bangunan bagaimana bisa menikmati keindahannya,’’ kata Bupati Kabupaten Lombok Utara H.Najmul Akhyar, pada saat pembongkaran, di Trawangan, Februari lalu.

Namun hingga dua bulan setelah pembongkaran, belum terlihat adanya perubahan yang signifikan untuk rencana-rencana yang disebutkan. Sehingga pemandangan di Trawangan tidak jauh berbeda dengan sebelum adanya pembongkaran. Pengusaha kafe dan restoran masih dengan bebas menyediakan lapak atau tempat berjualan di roi pantai.

Hal ini harus menjadi perhatian semua pihak, terutama Pemda Kabupaten Lombok Utara. Sebab jika terus dibiarkan, akan semakin banyak yang kembali berjualan di roi pantai. Semestinya ada komitmen dari pengusaha untuk tidak membuka kafe di roi pantai. Sebab hal itu dapat merugikan wisatawan. (lin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here