Beda Persepsi Soal 13 Pasien yang Meninggal Dunia

0
H. Lalu Gita Ariadi. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Pemkot Mataram dan Pemprov NTB berbeda pandangan terkait kasus Covid-19, terutama 13 pasien yang meninggal dunia. Penanganan wabah itu perlu persamaan persepsi untuk menekan penularan.

Perbedaan pandangan dimaksud yakni, Pemprov NTB menyebut bahwa 13 pasien positif meninggal dunia karena terinfeksi virus Corona. Sementara, Dinas Kesehatan Kota Mataram menegaskan pasien Covid-19 meninggal dunia memiliki penyakit penyerta.

IKLAN

Dari laporan penanganan kasus dari rumah sakit, pasien meninggal dunia diketahui memiliki penyakit penyerta. Di antaranya 7 persen memiliki riwayat penyakit asma. 30 persen pneumonia, 3 persen obesitas, 3 persen hipertensi atau darah tinggi, 17 persen CKD, 7 persen penyakit diabetes dan pasien memiliki lebih dari 1 penyakit sebanyak 33 persen.

Ketua Harian Gugus Tugas Penanganan Covid-19 NTB, H. Lalu Gita Ariadi menyampaikan, pertemuannya bersama Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh bersama tim gugus tugas dalam rangka konsolidasi penanganan Covid-19 dengan atensi khusus. Kota Mataram dan Lombok Barat dari rilis dikeluarkan setiap harinya kedua daerah masih zona merah.

Tim gugus tugas ingin memantapkan sinergitas bersama untuk mengendalikan dan menekan penyebaran, sehingga dari zona merah bisa segera menjadi oranye, kuning dan hijau. “Kita akan bahas dalam rapat penanganan medis dan non medis,” kata Gita ditemui usai bertemu Walikota, Selasa, 30 Juni 2020.

Penanganan non medis dikaitkan dengan kondisi masyarakat yang mulai menormalkan diri. Masyarakat kata Gita, apakah masih konsisten dengan protokol kesehatan Covid-19. Kendala dihadapi Kota Mataram maupun Lombok Barat bisa diatasi.

Langkah ditempuhkan dalam penanganan Corona di Mataram akan dibahas bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI), akademisi Unram dan kepolisian. Gita menanggapi perbedaan persepsi terhadap 13 pasien positif meninggal kini menimbulkan polemik. Hal ini akan disinkronkan dan meminta Ketua Tim Gugus Tugas Kota Mataram menyampaikan opini kedua, sehingga menjadi dasar merumuskan solusi penanganan.

Menekan kasus penularan tidak bisa serta merta Mataram menutup diri. Kondisi saat ini berbeda dengan kondisi pertama terjadi penularan. Masyarakat sudah memiliki asumsi normal. “Untuk menjadi ketat seperti yang dulu tidak gampang, tapi dari hasil rapat bersama mudah-mudahan ada langkah terpadu,” ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, dr. H. Usman Hadi menyampaikan, perbedaan pandang pada pasien meninggal telah disampaikan. Bahwa pasien meninggal dunia memiliki riwayat penyakit penyerta. “Nanti rumah sakit yang menjelaskan kenapa pasien meninggal. Kita tahu ada riwayat penyakit penyerta,” demikian kata dia. (cem)