BDR, Materi Pembelajaran agar Diberikan Sesuai Prioritas

Ilustrasi Sistem BDR (Sumber : Point me to the plane- BoardingArea)

Mataram (Suara NTB) – Keluhan dari banyak pihak terhadap sistem Belajar dari Rumah (BDR) secara daring tidak bisa dipungkiri. Dibutuhkan pemberian materi yang tepat seperti pemberian materi pembelajaran sesuai prioritas, termasuk teknik dan variasi belajar yang tepat.

Kepala Seksi Kurikulum pada Bidang Pembinaan SMA Dinas Dikbud NTB, Purni Susanto mengatakan, banyaknya keluhan orang tua maupun siswa terkait belajar daring saat ini memang tidak bisa dipungkiri. Menurutnya hal itu disebabkan beberapa hal, antara lain karena target materi yang terlalu berorientasi pada kuantitas bukan pada kualitas prosesnya. Ia mengatakan, sebaiknya materi pembelajaran agar diberikan sesuai prioritas.

Iklan

“Misalnya dimulai dari pemberian materi yang sederhana dahulu dan menghindari memberikan materi yang kompleks. Jangan berfikir untuk segera pindah kepada materi berikutnya bila sebagian besar siswa tidak memahami,” katanya.

Ia mengkhawatirkan, guru lebih banyak menyampaikan materi ala kadar dan fokus pada kuantitas. Tumpukan materi tersebut bisa menimbulkan rasa jenuh di kalangaan siswa. Akhirnya, materi satu belum selesai sudah ada materi berikutnya menyusul. “Peserta didik yang memang sudah bosan di rumah makin bete dan tidak menikmati proses belajar.  Karenanya materi pembelajaran agar diberikan sesuai prioritas,” ujarnya.

Selain itu, disebabkan karena teknik dan variasi belajar, termasuk variasi penugasan juga sangat monoton. Menurutnya, survei yang dilansir kementerian baru-baru ini menemukan bahwa lebih dari 80 persen penyampaian materi belajar daring maupun luring lebih terkesan penugasan ketimbang pembelajaran. Dampaknya, anak-anak makin stres. Pada tahapan berikutnya, anak-anak trauma dengan tugas atau belajar di rumah.

Oleh karena itu, sangat diharapkan guru-guru bisa mencoba beberapa model, mulai dari teknik mengajar dan variasi media pembelajaran yang menarik. Bahkan media penilaian dan evaluasi pun perlu dicoba alternatifnya, seperti tes, kuis sederhana, penugasan, sampai pada proyek lapangan yang lebih mengarah pada inquiry atau siswa menemukan sendiri bukan hanya sekedar menjawab benar-salah.

“Kami juga harus mengakui bahwa tentu banyak guru-guru kita yang mengajar serius, berkreasi, dan berinovasi dan mendedikasikan waktunya untuk anak- anak. Namun jumlahnya masih sangat terbatas. Alangkah bagusnya bila makin banyak guru kita yang sadar akan kebutuhan mengajar yang menyenangkan ini. Cobalah keluar dari zona nyaman dengan mencoba mengeksplorasi model-model lainnya yang tidak biasanya,” sarannya.

Di samping itu, menurut Purni, sikap orang tua yang kurang akomodatif terhadap anaknya yang tidak mampu menyelesaikan tugasnya. Orang tua marah, orangtua menghukum, dan lain lain akan makin memberikan tekanan mental kepada anak-anak untuk belajar. Orang tua bila terlalu tinggi tuntutannya akan cenderung memaksa anak ketimbang membimbing dan mengarahkan.

“Karenanya orang tua perlu berpikir realistis agar ujung-ujungnya tidak memgkambinghitamkan guru atau sekolah.  Nah, bila guru, orangtua, dan materi sudah ideal sesuai kondisi pandemi Covid-19 ini, insya Allah siswa kita akan senang dan gembira dengan belajar mereka,” katanya. (ron)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here