BDR, Guru Harus Kreatif

Muhammad Yusuf (Suara NTB/dok)

Belajar dari Rumah (BDR) secara dalam jaringan (daring) dan luar jaringan (luring) memang menjadi tantangan bagi guru dalam penerapannya. Banyak pihak juga yang menyoroti praktik BDR yang dianggap masih memberatkan siswa. Oleh karena itu guru diminta menyesuaikan kreatif dan inovatif dalam pembelajaran.
Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) NTB, Yusuf pada Selasa, 28 Juli 2020 mengatakan, sebagai pengurus PGRI, guru untuk melakukan refleksi sebelum melaksanakan BDR fase II. Menurutnya, pertama yang harus dilakukan untuk membuka perangkat pembelajaran.

“Menyesuaikan perangkat selanjutnya kita sederhanakan, bukan perangkat saja yang kita sederhanakan tetapi konten atau materi ajar juga harus disederhanakan,” katanya.

Iklan

Kedua, kata Yusuf, guru sebaiknya jangan melakukan penilaian seperti di saat melaksanakan pembelajaran tatap muka di kelas. Penilaian di saat pandemi Covid-19 bersifat sederhana bukan mengacu kepada KKM atau ketuntasan kurikulum. “Kami mengajak teman-teman guru khususnya anggota PGRI untuk berbenah diri, melakukan inovasi, kreativitas dalam pembelajaran,” ujarnya.

Di samping itu, ia menjelaskan, pembelajaran fase transisi atau adaptasi kali ini, sesuai edaran Mendikbud Nomor 14 Tahun 2019 atau merdeka belajar kedua, di mana guru cukup membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) satu lembar. Intinya terdiri dari tujuan pembelajaran, langkah-langkah kegiatan pembelajaran di dalamnya berisi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Dan, terakhir asesmen atau penilaian.

“Guru membuat analisis materi pelajaran, mana yang merupakan materi esensial dan difokuskan kepada pembelajaran berbasis projects base learning yang waktunya bisa dikerjakan dalam waktu 3-4 hari, jadi bukan setiap hari,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Seksi Kurikulum dan Penilaian pada Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Mataram, Syarafudin menjelaskan, pihaknya memberikan penjelasan agar sekolah memberikan materi esensi atau materi pokok sesuai dengan standar kompetensi lulusan, bukan memberika materi pengembangan.

“Memang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyampaikan tidak harus menuntaskan kurikulum, tapi kalau bisa menuntaskan kurikulum malah bagus,” ujarnya. (ron)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here