BBPOM Kesulitan Awasi Peredaran Gelap Tramadol di Bima

Mataram (Suara NTB) – Kepala Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Mataram, Drs. I Gde Nyoman Suandi, Apt, MM., mengaku kesulitan mengawasi peredaran obat tramadol di Kabupaten Bima. Hal itu dikarenakan peredaran obat tramadol dilakukan secara ilegal melalui jalur laut.

“Itu dari luar Bima dan luar Lombok, sehingga kami lakukan kerjasama dengan yang dari Surabaya. Kami lakukan kerjasama pemantauan dengan BPOM Surabaya.’’

Iklan

Tramadol merupakan obat penghilang rasa sakit dan mengurangi rasa sakit bagi pasien. Biasanya tramadol digunakan pasien setelah menjalani operasi. Dalam batas konsumsi yang wajar tramadol sangat berguna bagi pasien. Namun pada kenyataannya, obat ini kerap disalahgunakan oleh sebagian orang untuk menimbulkan efek tenang sebagaimana yang ditemukan di Kabupaten Bima beberapa waktu lalu.

Nyoman Suandi menyebut, penyelidikan jalur ilegal ini sulit dideteksi karena jalur distribusinya terputus-putus. Selain diduga berasal dari Surabaya, peredaran tramadol di Bima diduga berasal dari Jawa Barat.

“Di Jawa Barat juga pernah digerebek pusat produksinya dengan nama tramadol, ternyata ilegal juga,’’ katanya.
Untuk itu, pihaknya selalu melakukan pengawasan di masing-masing toko obat untuk mengetahui apakah ada tramadol, somadril termasuk obat keras lainnya yang diperjualbelikan secara bebas termasuk melakukan pengawasan di pabrik dan distributor obat.

‘’Itu ada pabriknya, ada distributornya. Jadi itu yang kami lakukan pengawasan berapa order berapa yang didistribusikan. Jadi ternyata produk-produk itu diproduksi oleh produsen ilegal. Nah ini yang digalakkan dan ini tantangan kita. Yang jelas pengawasan kami dari sarana-sarana ilegal di sini. Tantangan yang berat bagi kami ialah bagamaina memutus mata rantai peredaran tramadol,’’ ujarnya.

Lebih jauh Nyoman Suandi mengaku, saat ini muncul tren anak muda menggunakan obat-obat sejenis tramadol di Kabupaten Bima. Tahun 2014 lalu, pihaknya bersama Sat Pol PP juga telah melakukan operasi dengan menyita obat tramadol dari sejumlah tempat. Meski demikian, terus saja hingga kini masih terdapat peredaran tramadol secara ilegal, padahal pengawasan telah dilakukan.

“Kami terus lakukan pengawasan karena tidak boleh diperjualbelikan secara bebas dan menimbulkan penyakit sosial masyarakat, kami lakukan pengawasan. Berdasarkan pantaun kami selama ini, ada jenis-jenais tramadol, somadril yang beredar di masyarakat bukan berasal dari sarana-sarana yang punya izin selain apotek, puskesmas.’’

Yang ditemukan di Bima, itu awalnya berdasarkan laporan masyarakat. Obat sejenisnya itu didatangkan dari pelabuhan dan ini sudah dilakukan penindakan hukum. Kami juga terus secara rutin untuk lakukan pengawasan di sana,  ada anak-anak muda di Dompu memanfaatkan juga tramadol itu,’’ pungkasnya. (dys)