BBM Subsidi Diduga Banyak Disalahgunakan

Giri Menang (Suara NTB) – Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Lombok Barat (Lobar), H. Ahmad Subandi mengakui, banyak BBM subsidi yang diperuntukkan bagi nelayan disalahgunakan atau diselewenangkan untuk keperluan lain seperti industri dan hotel. Bahkan sejumlah nelayan di Gili Gede dan Gunung Sari terpaksa berurusan dengan aparat, karena diduga menyalahgunakan BBM subsidi.

Karena itu pihaknya pun memperketat pengawasan penggunaan BBM ini melalui rekomendasi yang dikeluarkan. “Memang banyak disalahgunakan BBM bersubsidi untuk nelayan, bahkan ada ditulis diizinnya untuk kelompok nelayan tapi untuk keperluan swasta,” akunya, Kamis, 6 Oktober 2016.

Iklan

Bentuk pengawasan dinas dititikberatkan pada saat mengeluarkan rekomendasi terhadap kelompok nelayan. Dalam rekomendasi ini dicek secara ketat, kelompok mana, BBM dipakai untuk keperluan apa dan siapa yang diberikan. Hal ini harus dilampirkan oleh kelompok nelayan ketika mengajukan rekomendasi ke dinas untuk memudahkan pihak dinas melakukan pengawasan di lapangan.

Kelompok nelayan juga diharuskan melaporkan tiap bulan apa saja kegiatan menggunakan BBM. Pihaknya rutin melakukan pengawasan tiap bulan untuk memastikan benar tidak BBM dipakai untuk keperluan nelayan. Bahkan tiap enam bulan sekali, rekomendasi ini diperpanjang. Menurutnya, BBM subsidi nelayan ini justru harus dipakai untuk mendukung kegiatan nelayan.

Sejauh ini, diakui modus penyalahgunaan BBM subsidi nelayan biasanya ada oknum kelompok mengajukan rekomendasi untuk keperluan kelompok, namun dialihkan untuk keperluan swasta. Mereka pun harus berurusan dengan aparat karena perbuatan itu tidak benar.

Ia menyebut jatah BBM subsidi berupa solar untuk satu kelompok nelayan 25 ribu liter per bulan. Jumlah jatah ini tidak boleh lebih dari itu, minimal kelompok diberi jatah 15 ribu liter. Jumlah kuota ini lanjutnya diawasi melalui rekomendasi.  Jumlah kelompok nelayan di Lobar sebanyak 225 kelompok dengan jumlah peserta sekitar 5.300 orang. Dari jumlah ini yang memperoleh subsidi solar masih minim sekitar 40 persen. Rata-rata nelayan di Lobar masih katagori nelayan dengan PK bukan gross ton atau GT. Ke depan, jelasnya, nelayan di Lobar diupayakan memperoleh bantuan subsidi. (her)