Bayi yang Dipisahkan dari Ibunya di Dompu Akhirnya Dikembalikan

Dompu (Suara NTB) – Percekcokan antara pasangan suami istri, Dafit Mustakim (25) dan Rita Suryaningsi (23) karena persoalan rumah tangga berimbas pada anaknya yang masih berusia 4,5 bulan. Bayi laki – laki yang masih membutuhkan Air Susu Ibu (ASI) ekslusif dipisahkan dari ibunya saat usia 3 bulan. Namun bayi ini akhirnya diserahkan ke ibu kandungnya setelah dilakukan pendampingan oleh petugas Dinas Pemberdayaan perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Kabupaten Dompu.

Kasi Pengaduan Perempuan dan Anak Dinas PPPA Kabupaten Dompu, Nasrullah, SKM, kepada Suara NTB, Rabu, 22 Februari 2017 kemarin mengaku, bayi yang diambil paksa ayah kandungnya dari ibu kandungnya di Rabalaju Kelurahan Potu Dompu sudah dikembalikan untuk mendapatkan ASI ekslusif selama 6 bulan pertama. Bayi ini diambil paksa di usianya yang masih 3 bulan dan dikembalikan saat usia 4,5 bulan, 15 Februari 2017 lalu.

Iklan

“Anaknya ini diserahkan kembali ke ibunya setelah Dafit mengizinkan istrinya Rita menemani anaknya di rumahnya. Selama 5 hari Rita menemani anaknya, Dafit akhirnya luluh dan mengijinkan Rita kembali ke rumahnya (rumah orang tuanya) bersama anaknya untuk mendapatkan ASI ekslusif,” jelas Nasrullah.

Nasrullah mengaku, setelah mendapatkan pengaduan bahwa ada bayi yang dipisahkan secara paksa dengan ibu kandungnya, langsung dilakukan pendekatan. Terlebih bayi tersebut sedang membutuhkan ASI ekslusif 0 – 6 bulan. Dalam masa pendekatan, Dafit ngotot mempertahankan putranya untuk dibesarkan setelah ia ambil paksa dari tangan istrinya. Sementara hubungan Dafit dan istrinya kini dalam proses perceraian di pengadilan.

“Karena Dafit ngotot dan anaknya menjadi korban karena tidak mendapatkan ASI ekslusif, kita dampingi istrinya untuk melapor ke Polisi. Kita sangkakan dengan undang – undang kesehatan,” terangnya.

Namun Nasrullah bersyukur, Dafit akhirnya luluh dan menyerahkan anak laki – lakinya untuk disusui ibunya. Laporan polisi oleh istrinya pun sudah dicabut kembali. “Kasus seperti ini ibarat gunung es dan terjadi akibat kekurang pahaman orangnya. Padahal ASI ekslusif menjadi hak anak dan mempengaruhi tumbuh kembang anak di masa depan. Anak juga sebenarnya tidak boleh diperlakukan kasar, karena itu mempengaruhi mental anak,” jelasnya.

Untuk menghindari tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak, kata Nasrullah, pihaknya akan membuka ruang pengaduan. Sehingga pihaknya melakukan pendampingan dan bisa melakukan upaya pencegahan.

“Karena Dinas kami ini baru, walaupun praktiknya sudah dilakukan Badan PPKB, tapi belum banyak diketahui oleh masyarakat. Makanya kami akan terus membuka diri melalui ruang pengaduan, termasuk pada tindakan kekerasan seksual pada anak yang banyak terjadi belakangan ini,” kata Nasrullah. (ula)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here