Barujari Meletus, Sembalun Aman

Selong (Suara NTB) – Letusan Gunung Barujari yang terjadi Selasa, 27 September 2016 belum menimbulkan dampak bagi warga Sembalun dan sekitarnya. Daerah yang terbilang paling dekat dengan Gunung Rinjani ini terlihat masih aman dan terkendali. Warga tetap menjalankan aktivitas seperti biasanya, bercocok tanam di kaki Gunung Rinjani.

Camat Sembalun, Usman kepada Suara NTB, Kamis, 29 September 2016 mengaku, semburan abu vulkanik yang kabarnya sampai ke ketinggian 2.000 meter itu justru tidak terdengar oleh warga Sembalun. “Bahkan tidak ada asap gunung yang terlihat,” katanya.

Iklan

Selain itu, proses evakuasi para pendaki pun tidak ada dari Sembalun. Hasil koordinasinya dengan aparat kepolisian, tidak ada yang mengungkapkan ada warga yang harus dievakuasi. Aktivitas warga berjalan seperti biasa dan tidak terlihat ada aktivitas letusan yang membahayakan para pendaki. “Alhamdulillah, letusan tidak sampai membahayakan,” katanya.

Aktivitas erupsi Gunung Barujari tahun 2016 ini, katanya, tidak jauh berbeda dengan tahun 2015 lalu. Abu vulkanik Barujari tidak ada yang terbang sampai ke kawah Sembalun. Dampak letusan Barujari ini dirasakan terakhir pada tahun 1994 silam. Camat yang juga warga asli Sembalun ini menuturkan, pada tahun itu letusan Barujari cukup besar dan bekas-besar letusannya masih bisa ditemukan sampai sekarang.

Bekas letusan dimaksudkan Camat Sembalun ini, atap-atap rumah warga masih banyak yang berwarna hitam. Terkena abu vulkanik. Tamanan-tanaman pertanian warga Sembalun kala itu pun banyak yang rusak. “Waktu itu tanamannya sebagian besar adalah bawang putih, ada yang rusak namun ada juga yang bisa diselamatkan,” katanya.

Diketahui, saat aktivitas tertinggi Barujari beberapa waktu lalu sempat membuat air danau Segara Anak meluap melewati sungai Kokok Putih. Akibatnya, air sungai Kokok Putik ini terlihat hitam kehijau-hijauan. Luapan Danau Segara Anak tidak sampai meluap ke perkampungan penduduk, karena sungai  cukup dalam. (rus)