Baru Selesai Dibangun, Proyek Talud Jalan Senilai Rp 1,5 Miliar Rusak

Proyek talud jalan senilai Rp 1,5 miliar rusak akibat longsor, Senin, 2 Maret 2020 dini hari. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Proyek talud di Desa Taman Sari Kecamatan Gunungsari rusak. Padahal proyek ini baru saja selesai dibangun akhir tahun 2019 lalu. Kerusakan talud yang dibangun sepaket dengan akses jalan sepanjang 1,5-2 kilometer senilai Rp 1,5 miliar diduga dipicu akibat intensitas hujan yang tinggi, Minggu, 1 Maret 2020.

Selain dampak hujan, proyek talud ini juga diduga kualitasnya kurang bagus. Lantaran talud dibangun terlalu tegak, sehingga rawan longsor.  Campuran material juga diduga kurang bagus, sehingga memicu cepat terjadi kerusakan. Lebih-lebih daerah ini perbukitan memiliki kontur tanah yang labil.

Iklan

Pantauan koran ini di proyek talud di Dusun Medas Munawarah Desa Taman Sari, tebing yang ditalud mengalami kerusakan akibat longsor, sehingga menutupi sebagian badan jalan. Ketinggian tebing ini mencapai 5-6 meter dengan kontur tanah berpasir. Tak jauh dari talud yang longsor itu, terdapat beberapa rumah warga. Jarak dari lokasi talud yang rusak dengan rumah warga sangat dekat, sehingga warga sekitar khawatir rumah mereka terkena longsor, apalagi saat ini tengah musim hujan. Sebab pada beberapa bagian talud terlihat sudah retak.

Menurut penuturan Maenah, salah satu warga, kejadian longsor talud itu setelah hujan lebat melanda Minggu kemarin. “Kejadiannya sekitar pukul 03.00 dini hari, talud itu longsor saat kami tidur. Kami pun terbangun, karena kaget,” akunya, Senin, 2 Maret 2020.

Ia mengaku saat talud ini dibangun justru mengeruk tanah dekat pemukimannya, sehingga jarak talud dengan rumahnya sangat dekat sekali. Ia khawatir rumahnya terkena longsor jika tidak segera diperbaiki.

Kades Taman Sari Ichsan mengakui, talud itu dibangun sepaket dengan jalan sepanjang 1,5-2 2 kilometer senilai Rp 1,5 miliar. Proyek ini diakui baru selesai dibangun akhir tahun lalu (sekitar bulan Desember), sehingga masih masa pemeliharaan. Terkait kondisi talud yang dinilai kualitasnya kurang bagus,  diakuinya waktu pengerjaan memang sempat dikomplain warga, karena tak terima sebagian lahannya di pinggr jalan itu dipakai untuk ditalud.

Warga saat itu meminta ganti rugi, namun karena tidak ada anggaran ganti ,rugi maka dipaksakanlah pembangunannya dengan kondisi seperti itu. “Sebenarnya ini dipaksakan, memang dia terjal kemiringannya. Tapi karena warga komplain,  maka seperti itulah dikerjakan talud itu,” aku dia.

Pihaknya sempat meminta agar talud dibangun setinggi 8 meter dengan kondisi miring, sebab kalaupun tebing, namun talud dibangun miring tidak akan terjadi longsor seperti saat ini. Namun karena dikomplain warga maka talud itu tidak jadi dibangun miring. Paket jalan dan talud ini dibangun melintasi tiga dusun antara lain Limbungan, Munawarah dan Medas Bedugul.

Semenara itu Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Lobar Made Arthadana mengatakan pihaknya akan turun mengecek proyek talud yang rusak akibat longsor tersebut. “Kami akan turun cek,”tegas dia melalui telepon. Lebih lanjut ditanya soal proyek ini, pihaknya belum bisa menjelaskan lebih banyak. (her)