Baru Ditata, Pasar Amahami Digenangi Rob

Pedagang tengah menjajakan barang dagangannya saat banjir rob menggenangi sisi selatan pasar Amahami Kota Bima, Jumat, 5 Juni 2020.(Suara NTB/Uki)

Kota Bima (Suara NTB) – Belum lama ditata untuk menyongsong dan dipersiapkan penerapan tatanan kehidupan baru di Kota Bima, kini pasar Amahami digenangi Rob, yakni banjir air laut pasang, Jumat, 5 Juni 2020.

Air laut meluap hingga ke area selatan pasar Amahami. Bahkan tidak sedikit pedagang yang baru saja dipindahkan, mengeluhkan penataan yang dilakukan Pemerintah yang tidak melihat kondisi pasar yang sebenarnya.

Seorang pedagang di Pasar Amahami, Anita kepada Suara NTB, mengaku awalnya berjualan di bagian depan pasar. Namun baru kemarin dipindah ke bagian belakang selatan pasar.
“Kalau begini, saya tidak mau dipindah. Saya akan kembali di depan pasar. Kalau terus dipaksa, bisa rusak semua dagangan saya,” katanya.

Keluhan serupa juga disampaikan pedagang sayur mayur, Nurmah. Ia mengatakan, seharusnya Pemerintah bertanya terlebih dahulu bagaimana kondisi pasar Amahami kepada pedagang.
“Banjir Rob menjadi langganan di bagian selatan pasar karena letaknya yang renda. Harusnya tanya dulu ata mencari tahu kondisi pasar, baru mau diapakan. Kalau begini, rugi pedagang,” ujarnya.

Seperti diketahui Pemkot Bima melalui Tim Gugus Tugas Pencegahan Covid-19 akan mengeluarkan kebijakan dan aturan baru dalam menghadapi dan menyongsong era tatanan kehidupan baru.
Kebijakan baru dengan mengedepankan kearifan lokal tersebut salahsatunya, para pedagang dan pembeli di pasar raya Amahami wajib menggunakan rimbu mbojo (perempuan) dan masker bagi laki-laki.

Ketua Tim Gugus Tugas Pencegahan Covid-19 Kota Bima, H. Muhammad Lutfi SE mengaku pihaknya menginginkan agar pasar dan pertokoan di Kota Bima bisa ditata serta dikelola dengan menerapkan pola sosial distancing (jaga jarak).
“Penataan dan pengelolaan pasar intinya agar bagaimana masyarakat bisa mengerti dalam menyongsong tatanan kehidupan baru,” katanya belum lama ini.

Menurutnya, masyarakat yang melakukan aktivitas di pasar akan ditertibkan dalam perilaku dan interaksi antara pedagang dan pembeli. Hal itu akan menjadi piloct project dan salahsatu inovasi Pemkot Bima untuk membentuk perilaku pelaku pasar.
“Di Kota Bima ditata terlebih dahulu di pasar Amahami agar tidak kumuh, kemudian setelah itu bergeser ke pasar lain,” katanya.

Di pasar Amahami lanjutnya juga akan ditunjang fasilitas seperti tenda dan payung yang bisa mencukupi sekitar 400 pedagang. Selain itu, kata dia, akses keluar masuk pasar diperketat. “Jadi akses keluar masuk pasar hanya dibuka dua pintu supaya tidak ada interaksi yang padat,” katanya. (uki)