Banyak yang Gagal Tes Kompetensi Teknis, PGRI NTB Minta Pemerintah Perhitungkan Masa Pengabdian Guru

Yusuf (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Nusa Tenggara Barat, merespons berbagai keluhan  dari beberapa guru yang ikut seleksi ASN PPPK. Para guru honorer mengatakan kegagalan atau ketidaklulusan mereka diakibatkan karena tidak memenuhi nilai ambang batas atau passing grade, yang telah ditetapkan oleh Kemenpan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia terlalu tinggi. Karena itu, PGRI meminta pemerintah memperhitungkan masa pengabdian guru honorer yang bersangkutan.

Ketua PGRI NTB, Yusuf pada Rabu, 15 September 2021 menyampaikan para guru honorer mengatakan kebanyakan mereka gagal pada tes kompetensi teknis atau bidang yang diampu para guru.  Ketentuan tentang ambang batas tersebut diatur dalam Permenpan RB RI Nomor 1127 Tahun 2021. Dari empat kompetensi yang diujikan, tempat paling banyak gagalnya adalah kompetensi teknis karena nilai ambang batas setiap peserta tes wajib menjawab kurang lebih 65 butir soal dari 100 butir soal yang disiapkan.

Iklan

Namun, dengan beratnya tantangan , PGRI tetap berharap dan meminta kepada pemerintah agar ada tambahan afirmasi bagi seluruh guru honorer K2 dan non-K2  usia 35 tahun ke atas. “Afirmasi yang dimaksud adalah agar pemerintah memperhitungkan masa pengabdian guru honorer yang bersangkutan. Di samping itu guru honorer K2 dan non-K2 usia 35 tahun ke atas tersebut telah memiliki nomor unik pendidik tenaga kependidikan atau NUPTK,” ujarnya.

Pihaknya berpendapat, apa gunanya NUPTK apabila pemerintah tidak mengakui masa pengabdian guru honorer, karena untuk mendapatkan NUPTK tidak mudah. Seorang guru harus mengabdi minimal dua tahun, mata pelajaran yang diampu linear dengan kualifikasi S1/DIV yang dimiliki, memiliki SK yayasan atau SK Pemerintah Daerah, baru pemerintah menerbitkan NUPTK seorang guru.

“Oleh karena itu, PGRI mohon kepada pemerintah agar memperhatikan hal ini, demi perbaikan kesejahteraan para guru honorer yang sudah puluhan tahun mengabdi, namun kejelasan nasib menjadi ASN PPPK pada akhirnya gagal juga,” sesal Yusuf.

Salah satu tenaga honorer yang ikut seleksi PPPK mengakui, jika naskah tes cukup sulit, terutama tes kompetensi teknis. Dirinya hanya berharap ada keajaiban bisa lulus pada tes kali ini, meski peluangnya sangat sedikit. ‘’Soalnya cukup sulit, sehingga banyak soal yang tidak bisa saya jawab. Kalau sudah begini, lebih baik saya ‘’banting setir’’ saja,’’ keluhnya. (ron)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional