Banyak Mahasiswa Asal Pulau Sumbawa Belum Terakses Jaringan

Asmawati (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Daya serap perkuliahan dengan sistem dalam jaringan (daring) kurang dari 50 persen. Rendahnya persentase tersebut lantaran adanya kendala pada internal mahasiswa dan masalah eksternal lain seperti kendala jaringan.

“Ada kendala sinyal, ada yang harus naik ke bukit, ke pohon harus jalan beberapa kilo baru ketemu sinyal,” tutur Dekan Fakultas Pertanian Universitas Muhammdiyah Mataram (Ummat) Ir. Asmawati, menuturkan kondisi sebagian besar mahasiswa Fakultas Pertanian Ummat asal Pulau Sumbawa.

Iklan

Ditambahkan, mahasiswa juga tidak semuanya mempunyai HP bagus dan representatif sebagai media untuk mengikuti kuliah daring, sehingga kalau untuk dipakai zoom meeting, dan platform lainnya tidak bisa.

Kondisi itu berimbas pada tidak maksimalnya penggunaan kuota internet gratis yang diberikan pemerintah. Padahal bantuan paket internet gratis untuk memudahkan perkuliahan, hanya saja kendala jaringan yang banyak titik blankspot akibatkan kuota tidak terpakai.  “Dikasih kuota tidak bisa dipakai secara maksimal,” jelasnya.

Idealnya jika kuliah daring menggunakan platform zoom meeting. Hanya saja mahasiswa lebih banyak yang minta kuliah daring menggunakan WA.  “Ada yang bisa sebagian ada yang lain gak bisa kuliah sehingga dosen bisa kuliah dua tiga kali melayani yang WA, yang zoom. Belum lagi kalau daring tidak ada yang bisa hadir semua saat kuliah daring dengan berbagai kendala. Belum lagi dia harus minjam hp saudaranya baru bisa ikut kuliah. Makanya anak anak mau kuliah tatap muka. Sehingga kuota internet gratis tidak maksimal,” bebernya.

Dengan beragam kendala yang dihadapi di lapangan, dosen jelasnya tentu saja tidak bisa terlalu egois memaksakan seluruh mahasiswa mengikuti pola daring menggunakan satu platform saja, karena memang situasi objektif masing-masing mahasiswa berbeda.  “Ngak bisa egois,” sebutnya.

Diungkapkan problem lain saat kuliah daring berlangsung, tidak bisa memastikan semua mahasiswa mengikuti kuliah, karena pengalaman banyak yang dipanggil saat kuliah namun yang bersangkutan tidak ada di tempat.

“Kelemahannya yang penting mahasiswa sudah isi daftar hadir masuk kuliah tapi ternyata tidak ada di sana. Yang penting dia tahu kita hadir tapi dia nggak dengerin, ada yang bilang dia sedang panen gabah, ada yang bilang lagi bantu orang tua. Hp ini hanya bunyi tapi dia gak dengerin. Mudahan Covid-19 cepat selesai,” sambung Asmawati.

Untuk melakukan penilaian terhadap mahasiswa, dosen sebutnya tidak bisa terlalu saklek dengan model indikator penilaian selama ini. Yang paling penting ialah secara substansi perkuliahan telah berjalan dalam situasi tidak memungkinkan berlangsung normal.

“Nggak bisa saklek seratus persen, ada juga yang betul ikuti hadir absen ikut sampai selesai yang penting tahapan dia ikut. Ada UTS persoalannya ada juga yang ngisi UAS ada yang ngisi tugas. Masalahnya ada juga yang harus dipraktikkan, tapi tidak bisa dipraktikkan,” ungkapnya.

Padahal Fakultas Pertanian merupakan fakultas terapan dimana praktikum sangat dibutuhkan mahasiswa. Namun selama daring hanya dilakukan dengan peragaan tutorial yang tentu saja jauh dari maksimal.

“Jadi kita minta mereka buat peragaan tutorial itu juga tidak efektif. Karena ilmu terapan. Begitupun kalau ujian meski close book ya bagus semua hasilnya. Ada yang ngirim persis sama dengan PPT yang kita kirim. Jadi kita mau berharap kualitas tidak ada kualitas. 50 persen saja daya serap materi itu tidak ada. Kita belum bisa akselerasi teknologi itu. Yang maksimal mereka yang punya hp bagus dan sinyalnya bagus keterbatasan daya beli perangkat dan lainnya,” tegasnya. (dys)