Banyak Anak Tertangkap Razia di Loteng, Disos Lobar Malu

Anak-anak asal Lobar yang terjaring razia Satpol PP Loteng saat jualan di perempatan jalan dijemput oleh Disos Lobar. (Suara NTB/ist)

Giri Menang (Suara NTB) – Lima anak asal Lombok Barat (Lobar) tertangkap razia oleh Satpol PP di Lombok Tengah. Kelima anak ini ditertibkan Satpol PP saat berjualan makanan di lampu merah di daerah setempat. Kasus anak-anak Lobar yang terkena razia di daerah tetangga, bukan kali ini saja terjadi, namun sudah ketiga kalinya. Hal ini menyebabkan Dinas Sosial (Disos) Lobar mengaku malu dengan kejadian ini. Disos pun mengancam akan melaporkan ke polisi oknum yang mengkoordinir anak-anak tersebut.

“Ada lima anak yang diamankan, yang lain lari pakai sepeda motor. Mereka terjaring razia saat jual makanan di jalanan. Saya jemput mereka di Satpol PP Loteng. Saya malu ditelepon, karena ini ketiga kalinya,” ungkap Kepala Disos Lobar Hj. Made Ambaryati, Selasa,  9 April 2019.

Iklan

Diakuinya, banyak anak-anak asal Lobar yang bekerja menjadi penjual makanan di jalan raya. Anak-anak ini dikoordinir oleh oknum yang mengantar jemput mereka dari rumah ke lokasi jualan. Lokasi jualan mereka hingga ke Loteng dan dan Kota Mataram. Oknum yang mengkoordinir ini kata dia tidak pernah kapok, padahal pernah terkena razia sebelumnya dan sudah diingatkan. Karena itulah ia meminta agar kecamatan bisa melaporkan ke polisi. “Pihak kecamatan sudah kontak polsek, agar oknum ini ditangani,” tegas dia.

Menurut dia kasus ini harus ditangani oleh aparat, sebab bagaimana ini pun mempekerjakan anak di bawah umur. Jangan sampai, ada upaya eksploitasi anak untuk keperluan orang tua dan oknum  terentu. Pihaknya sudah menanyakan langsung ke pihak sekolah. Anak-anak ini tetap masuk sekolah, karena mereka bekerja berjualan setelah pulang sekolah. Mereka dijemput ke rumahnya selepas pulang sekolah.

Anak-anak ini kata dia senang berjualan karena bisa menabung, bahkan ada anak bisa menabung hingga jutaan rupiah.Dalam sehari, dari hasil penjualan makanan ini satu anak bisa menabung Rp 25 ribu. Hal ini menyebabkan mereka tergiur.  Untuk penanganan dari dinas, pihak dinas sudah mengumpulkan anak-anak tersebut untuk diberikan bimbingan psikologis oleh psikolog. Mereka diberikan motivasi. Termasuk orang tua anak-anak sudah didatangi untuk diingatkan agar jangan mengizinkan anak-anak mereka jualan.

Diakui kebanyakan anak-anak yang bekerja jualan ini dari keluarga broken home (orang tua bercerai).  Untuk  penanganan jangka panjang kata dia, pihaknya akan mendata orang tua dan anak-anak ini terkait bagaimana kondisi ekonominya. “Kalau tidak mampu kita sentuh lewat program Kube dan lain-lain nanti,”imbuh dia. (her)