Bantuan Vaksin Rabies Provinsi Tak Disertai Biaya Operasional

Joko Agus Guyanto. (Suara NTB/Jun)

Bima (Suara NTB) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bima, sudah menerima 3.000 dosis vaksin Hewan Pembawa Rabies (HPR) dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB. Meski begitu, bantuan tersebut tidak disertai biaya operasional petugas UPT Peternakan di 18 kecamatan. Kondisi ini memaksa mereka hanya memenuhi target sesuai alokasi vaksin pengadaan daerah, yakni 2.000 dosis.

Kepala Bidang Keswan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Kabupaten Bima, drh. Joko Agus Guyanto kepada Suara NTB di kantornya, Selasa, 24 Agustus 2021 menyampaikan, selama beberapa bulan terakhir memang tidak ditemukan kasus gigitan baru. Akan tetapi ancaman serangan anjing rabies masih tetap ada, karena sepanjang Januari-Agustus 2021 tercatat 71 kasus gigitan.

Iklan

Kendati tingkat serangan melandai tidak berarti pihaknya menghentikan upaya pengendalian, salah satunya dengan menggiatkan vaksinasi hewan sumber gigitan. “Walaupun sekarang gigitan kurang kami tetap jalan untuk vaksinasi,” terangnya.

Dalam pelaksanaan program vaksinasi anjing rabies, Joko Agus Guyanto menyebutkan, daerah hanya mengalokasikan anggaran untuk pengadaan 2.000 dosis vaksin. Jumlah ini tak sebanding populasi anjing yang tersebar di 181 desa pada 18 kecamatan, yakni sekitar 140.000 ekor.

Keterbatasan stok vaksin itu telah disikapinya dengan meminta bantuan provinsi, sehingga terealisasi 3.000 dosis. Namun karena tidak disertai biaya operasional, pihaknya tak bisa memaksa petugas untuk menuntaskan semuanya. “Bantuan dari provinsi kita terima, tetapi pelaksanaan terserah UPT mau dilaksanakan atau tidak. Terpenting target 2.000 dosis yang dari daerah harus tercapai,” jelasnya.

Dikatakan, kegiatan vaksinasi tidak cukup dengan tersedianya stok vaksin, tetapi harus diimbangi biaya operasional kendaraan dan petugas di lapangan. Upaya meminta bantuan provinsi sudah dilakukan, namun karena alasan refokusing anggaran untuk penanggulangan Covid-19 harapan itu tak bisa diakomodir.

Selain giat vaksinasi, upaya pengendalian serangan anjing rabies saat ini hanya bisa dilakukan dengan menggencarkan sosialisasi agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan mandiri. Terutama pada para petani yang memanfaatkan anjing liar untuk keperluan berladang. “Kalau eliminasi susah. Racunnya juga sulit dan mahal,” pungkasnya. (jun)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional