Bantuan Korban Dikhawatirkan Rawan Picu Konflik

Pembagian buku rekening tabungan kepada korban gempa di salah satu desa di Lobar. (Suara NTB/dok)

Giri Menang (Suara NTB) – Bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi rumah bagi korban gempa di Lombok Barat (Lobar) dikhawatirkan rawan memicu konflik di tengah masyarakat. Pasalnya, terjadi kecemburuan antara sebagian warga yang sudah mendapatkan rekening bantuan dan yang belum memperoleh rekening. Bahkan di satu desa ada sejumlah dusun belum memperoleh bantuan merasa diberlakukan tak adil, karena belum dapat kepastian bantuan tersebut.

Seperti di Desa Bagik Polak Kecamatan Labuapi. Ada satu dusun yang belum mendapatkan bantuan sama sekali, padahal di dusun lain sudah diberikan buku tabungan. Menurut Kepala Desa Bagik Polak Amir Amraen, jika bantuan korban gempa khusus rusak ringan dan sedang mengundang gejolak di desanya. “Pasalnya, warga di satu dusun tidak memperoleh bantuan tersebut. Mereka mulai ada rasa kecemburuan, ini kita khawatirkan jadi potensi konflik,”jelasnya, Jumat,  1 Februari 2019.

Iklan

Diakuinya, terdapat salah satu dusun Karang Bucu Daye yang ada di wilayah kerjanya tidak satupun masuk data penerima bantuan. Data warga di dusun ini tidak satupun yang terdata dalam SK Bupati. “Katanya akan dilakukan validasi kembali, namun sampai saat ini tidak ada validasinya,” keluhnya.

Menurutnya begitu turun bantuan entah itu sebatas pembagian buku tabungan akan menjadi gejolak, karena sebagian mendapatkan rekening, sebagian lagi tidak memperoleh buku tabungan. “Ada rasa iri antara masyarakat satu dengan yang lain, ini yang kita khawatirkan,”kata dia. Padhal kata dia pihaknya sudah mengusulkan semua korban gempa kepada pemda. “Bingung kita ini, validasi belum, anggaran sudah keluar,” tukas Amir.

Baginya, siapa yang salah dalam hal ini jelasnya para pelaksana, karena para petugas kurang profesional. Fasilitator misalnya, kurang cekatan menindaklanjuti keluhan. Mestinya, kata dia satu desa itu harus diselesaikan, jangan separuhnya dibiarkan ngambang dan tidak diproses sama sekali, sehingga menimbulkan gejolak di masyarakat. “Harus bisa membaca hati rakyat. Karena hati dan pikiran rakyat sudah pasti bergejolak,” bebernya.

Sementara fasilitator Desa Bagik Polak Rena Cipta Nugraha menyebutkan, total korban gempa yang menerima SK baik rusak ringan dan rusak sedang sebanyak 119 KK terdiri dari 14 KK rusak sedang dan sisanya rusak ringan. “Kami di sini hanya menangani rusak ringan dan rusak sedang sesuai yang sudah di-SK-kan ,” ucapnya.

Berdasarkan data yang dihimpun pihak desa, sebanyak 133 rumah rusak akibat gempa. Sebagai tenaga fasilitator pihaknya hanya mempunyai kewenangan untuk mendampingi masyarakat yang punya rumah rusak ringan dan sedang saja. (her)