Bank Sampah Kota Mataram Sepi Aktivitas

Mataram (suarantb.com) – Sepi dan tak ada kegiatan pengolahan atau daur ulang sampah. Itulah kondisi yang ditemui suarantb.com saat berkunjung ke Bank Sampah Lisan (BSL) Kota Mataram yang berlokasi di Lingkungan Kebon Talo, Ampenan, Rabu, 9 Nopember 2016.

Para pekerja bangunan yang tengah bekerja juga mengaku memang tidak ada pengurus yang berada di kantor. “Kalau sekarang tidak ada orang, mungkin nanti sore baru ada,” ujar salah seorang dari mereka.
Bank sampah yang dibentuk Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Mataram ini sepi dari aktivitas pengolahan sampah. Padahal saat ini permasalahan sampah di Mataram butuh ditangani dengan segera. Adanya bank sampah ini tentunya diharapkan bisa mengurangi penumpukan sampah, baik di TPS maupun lokasi-lokasi pembuangan sampah lainnya.

Iklan
sampah lisan
Pemandangan di dalam ruang sortir berisi sampah kotor yang belum dipilah. (Suara NTB/ros)

Di antara beberapa ruang pengolahan sampah yang sudah ada, hanya ruang penyortiran yang berisi sampah. Namun, isinya juga berupa tumpukan sampah yang telah dikumpulkan petugas BSL dari kelompok kerja (pokja) yang tersebar di Mataram. Jika diamati sampah tersebut belum disortir dan masih sedikit kotor.

Jika melirik ke dalam bangunan utama, tersedia etalase-etalase kaca yang hampir kosong. Hanya ada beberapa kerajinan dari sampah yang dipajang, selebihnya tak terisi.

Kepala BLH Kota Mataram, M. Saleh mengaku BSL memang masih dalam proses pembangunan. “Kita mulai tahun anggaran 2015, bukan dia tidak tuntas di tahun 2015. Tapi ada beberapa item yang perlu ditambah, makanya kita pakai anggaran 2016. Target kita bulan ini pengerjaan sudah selesai,” jelasnya.
Tidak adanya petugas diakui Saleh karena BSL tengah dalam proses pengerjaan dan jumlah SDM di BLH juga terbatas.

“Itu (BSL) sebenarnya sudah beroperasi, tapi tidak ada petugas di sana karena sedang dalam proses pengerjaan dan jumlah SDM kita terbatas. Yang mereka lakukan sekarang itu kan keliling pakai mobil kumpulkan sampah di pokja-pokja,” jelasnya.

Ketika disinggung mengenai kemungkinan BSL untuk bisa melakukan kerja sama dengan bank sampah binaan masyarakat yang aktif, Saleh tidak menunjukkan ketertarikan. Ia hanya mengatakan bahwa BSL yang dibentuknya ini adalah bank sampah induk. Dan sudah mempunyai pokja-pokja tersendiri yang menjadi bank sampah unit yang telah ditentukan sendiri oleh BLH Kota Mataram.

“Yang buat ini bank sampah induk, dan ada lah bank sampah unit kita itu yang berupa pokja-pokja. Kelompok-kelompok kerja ini lah yang jadi bank sampah unit,” imbuhnya.

Sebelumnya, pegiat lingkungan dan pendiri Bank Sampah NTBM, Aisyah Odist mengutarakan keinginannya pada suarantb.com untuk bisa bekerja sama dengan Pemkot Mataram untuk menangani masalah sampah.

Jika menilik komentar Saleh tersebut, niat Aisyah sepertinya belum bisa direalisasikan dalam waktu dekat. Karena BLH Kota Mataram melalui BSL belum ingin melakukan kerja sama dengan bank sampah binaan masyarakat.

Aisyah memang sempat melotarkan pernyataan bahwa pemerintah hanya mau mendengarkan pokjanya saja.

“Pemerintah itu cuma mau mendengar kata-kata pokja-pokjanya saja. Kita sudah berusaha menyampaikan, tapi tidak ada respons ya sudah. Niat saya kan cuma ingin membantu,” ucapnya. (ros)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here