Bank Indonesia Prediksi Pertumbuhan Ekonomi NTB 2021 Capai 4,2 Persen

Kepala Bank Indonesia, Heru Saptaji (kanan) memberikan cinderamata Uang Pecahan Khusus (UPK) Rp75.000 kepada Penanggung Jawab Harian Suara NTB yang juga Direktur Radio Global FM Lombok, H. Agus Talino, Senin, 28 Desember 2020. (Suara NTB/bul)

Mataram (suarantb.com) -Bank Indonesia terus menebar optimisme menyongsong pertumbuhan ekonomi yang lebih baik di tahun 2021 mendatang. Sinergi dengan seluruh stakeholder menjadi kunci.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Heru Saptaji dan jajaran melakukan kunjungan ke redaksi Harian Suara NTB, Senin, 28 Desember 2020. Ia diterima langsung Penanggung Jawab Harian Suara NTB dan Direktur Radio Global FM Lombok, H. Agus Talino, Redaktur Pelaksana Harian Suara NTB, Desak Raka Akriyani dan Redaktur Pelaksana suarantb.com, Mohammad Azhar.

Kunjungan orang nomor satu di Bank Indonesia Nusa Tenggara Barat ini selain silaturahmi setelah ditugaskan di provinsi ini oleh Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo 28 Agustus 2020 lalu. Sekaligus upayanya membangun harmonisasi dengan seluruh stakeholder dalam rangka membangun perekonomian daerah dan nasional.
Dalam kesempatan ini, Heru Saptaji memaparkan banyak hal tentang kondisi ekonomi di masa pandemi dan proyeksi ekonomi di tahun 2021. Ia juga menyampaikan sejumlah kebijakan strategis yang ditempuh oleh Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Secara global, Heru Saptaji memapaparkan, seiring dengan ditemukannya vaksin corona, memberikan angin segar terhadap kondisi perekonomian global yang tercermin dari revisi perubahan proyeksi pertumbuhan yang jauh lebih optimis. Pertumbuhan ekonomi global yang sebelumnya diproyeksikan masih mengalami kontraksi hingga 2021, diperkiarakan pada kisaran -5,2% sampai -5,4%. Tercermin dari indeks mobilitas yang meningkat dan indeks kegiatan industri manufaktur serta non manufaktur sebagai indikator pulihnya aktivitas ekonomi global.
“Beberapa negara besar seperti Amerika Serikat, India, Tiongkok dan negara-negara di eropa, Korea dan Jepang mengkoreksi pertumbuhan ekonominya. Ekonomi global diperkirakan tumbuh positif sampai 5 persen,” ujarnya.

Hal ini juga terjadi di nasional. Awalnya diproyeksikan ekonomi tahun 2021 mengalami kontraksi -4,19%. Tetapi seiring dengan membaiknya ekonomi global, pertumbuhan ekonomi direvisi tumbuh positif dikisaran 4,8% sampai dengan 5,8%. Karena melihat tren kontraksi secara tahunan membaik yaitu dari -5,35 (yoy) di triwulan II-2020 menjadi -3,49% (yoy) di triwulan III-2020.

Secara quarter-to-quarter (qtq), ekonomi Indonesia pada triwulan III-2020 mengalami perbaikan, tercermin pada pertumbuhan sebesar 5,05% (qtq) dari sebelumnya kontraksi atau negatif 4,19% (qtq).

“Inflasi bagus, kita tidak nemu ada panik buying, kita tidak mengenal istilah spekulan bermain, kita tidak mengenal kelangkaan pasokan, keuslitan dan sebaigainya. Alhamdulillah, kita lalui itu semua dengan baik, tidak ada yang mengacaukan harga. Hingga pengendalian inflasi kita tercapai pada kisaran yang baik sampai Novembe kita ada di kisaran 1,59 persen yoy dari nasional,” ujarnya.

Heru Saptaji menegaskan dalam mengukur pertumbuhan ekonomi tidak bisa dengan membandingkan ekonomi tahun 2020 dengan ekonomi tahun 2019. Karena ekonomi tahun sebelumnya normal, sementara tahun 2020 ini ekonomi global sakit karena corona.
“Kalau membandingkan dengan keadaan sebelumnya, ekonomi tumbuh kontraksi sedikit saja Alhamdulillah.Tapi harus kita lihat secara jernih. Bahwa ekonomi global sedang sakit. Sehingga harus dilihat pertumbuhan ekonomoinya dari kedaan yang terjadi sekarang,” imbuhnya.

Pada keseluruhan tahun 2020, Bank Indonesia memperkirakan ekonomi NTB tumbuh pada kisaran 0,2 sampai dengan 0,6%(yoy) dengan inflasi diperkirakan berada di bawah target inflasi nasional pada kisaran 0,4 sampai dengan 0,8%(yoy). Tahun 2021 mendatang, diperkirakan ekonomi NTB tumbuh lebih baik yakni pada kisaran 3,8 sampai dengan 4,2%(yoy) dan inflasi pada kisaran target inflasi nasional 3±1%(yoy).
“Tapi dengan catatan, ayo kita wujudkan, kita besarkan api secercah harapan di ujung goa yang sudah kelihatan. Kita besarkan api ini bersama-sama, rumusnya 1 + 5,” ujarnya.

Rumus 1 (satu) didefinisikan sebagai upaya pengendalian covid-19, selain vaksinasi adalah dengan menjaga kedisiplinan protokol covid sekuat mungkin. Seluruh pihak punya tanggung jawab dalam hal ini. Sebab dimensi ekonomi, kata Heru Saptaji, tidak bisa dipisahkan dengan dimensi kesehatan dan kemanusian.
Istilah sederhananya, pemilik uang, kalangan menengah ke atas tidak mungkin melepas uangnya (investasi/belanja) selama dimensi kesehatan tidak terjaga atau protokol covid diabaikan masyarakat.

Sedangkan rumus 5 (lima) yang dimaksudkannya adalah bauran kebijakan yang diambil oleh Bank Indonesia bersama pemerintah. Pertama, membuka selebar-lebarnya sektor perioritas aman produktif di NTB yaitu pariwisata, dan pertanian. Kedua, mendorong pengeluaran fiskal pada triwulan I 2021 bersama-sama dilakukan. Tidak zamannya lagi mengeluarkan belanja di pertengahan atau numpuk di akhir tahun.
“Kalau ingin mendorong akselerasi ekonomi, kita dorong sama-sama anggaran/fiskal itu bisa terealisasi di awal tahun, dari triwulan I,” jelas Heru Saptaji.

Kebijakan ketiga, mendorong pertumbuhan kredit yang lebih seimbang dan lebih inklusif. Yaitu, sektor-sektor yang prospektif dan aman harus dibiayai oleh perbankan. Karena itulah yang akan menyelamatkan ekonomi sebagai upaya bersama dalam menangani pemulihan ekonomi. Di NTB, ada sektor pertanian, pariwisata dan ekonomi kreatif. Bersama OJK dan seluruh perbankan harus mendorong kebijakan ketiga ini.

Keempat, bagaimana kebijakan moneter dan makroprudential yang lebih akomodatif terhadap pemulihan ekonomi nasional dengan memelihara likuiditas yang longgar. Salah satunya lima kali penyesuaian suku bunga acuan yang rendah. Saat ini di angka 3,75 persen. Kelima, mendorong digitalisasi di semua sektor. Sistem pembayaran, pengembangan UMKM, dan pengembangan eksport semua didorong ke arah digitalisasi.
Kebijakan nasional ini, lanjut Heru Saptaji, tentunya akan diimplementasikan juga di daerah Nusa Tenggara Barat. Dengan dimensi-dimensi kedaerahan.

“Kita punya optimisme yang jauh lebih baik di NTB, makanya kita kerjakan sama – sama. Asalkan dimensi yang 1 plus 5 di jaga. Jaga protokol covid-19. Jangan biarkan anggaran negara terus menerus fokus untuk penanganan corona,” serunya.

NTB dipandang sebagai daerah yang sangat potensial tumbuh dibanding daerah-daerah lainnya. Pendorong yang utama adalah pertanian dan pertambangan yang ekspornya tahun 2021 dipastikan sangat baik.

“Apalagi kalau sektor pariwisata ini bergerak, mantap itu. Dimensi olahan, dimensi industry kreatif. Itu bisa didorong juga bersama – sama . Semua pemangku kepentingan harus mempunyai persketif yang sama. Ini kesempatan emas yang tidak semua daerah punya, MotoGP, KEK Mandalika,” demikian Heru.

Di akhir silaturahmi, Heru Saptaji meminta didoakan agar ia mampu memberikan yang terbaik bagi Nusa Tenggara Barat. Media juga menurutnya memiliki peran yang sangat strategis untuk menyampaikan kepada publik untuk bersama-sama membangun ekonomi yang diharapkan. (bul)