Bank Indonesia Pantau Dampak Corona

Achris Sarwani (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Bank Indonesia akan terus memantau kondisi perekonomian NTB, termasuk dampak Covid-19 serta terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait. Langkah ini dilakukan, untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi NTB khususnya menjelang penyelenggaraan event motoGP 2021 di Lombok.

Terhadap kondisi perekonomian NTB, menurut Kepala Bank Indonesia NTB, Achris Sarwani, adanya wabah virus Corona (Covid-19) diprakirakan akan berpengaruh pada sisi perdagangan internasional (ekspor-impor) dan pariwisata.

Iklan

Covid-19 telah berdampak pada penurunan aktivitas ekonomi Asia di luar Tiongkok dengan banyaknya pabrik, tempat bisnis serta perkantoran yang ditutup. Hal tersebut akan berdampak pada penurunan kegiatan produksi yang menggunakan bahan baku yang diimpor, termasuk dari Indonesia yang akan mengurangi permintaan industri bahan baku di Indonesia.

Sebaliknya, kurangnya pasokan bahan baku yang diimpor dari negara terdampak Covid-19 berpotensi menurunkan kegiatan industri pengolahan di Indonesia, termasuk industri di NTB.

‘’Sementara dari sisi pariwisata, dengan adanya penyebaran Covid-19, wisatawan asing akan enggan untuk bepergian keluar dari negaranya sampai negara-negara tujuan pariwisata dinyatakan aman,’’ ujarnya.

Achris Selasa, 3 Maret 2020 kemarin, secara umum menggambarkan, ketidakpastian pasar keuangan global akibat Covid-19 makin tinggi. Meskipun intensitas di Tiongkok mulai berkurang. Asesmen terkini Bank Indonesia menunjukkan penyebaran Covid-19 di Tiongkok mulai berkurang dan berdampak positif pada kenaikan kegiatan ekonomi di Tiongkok.

Namun demikian, ketidakpastian pasar keuangan makin meningkat pascaditemukannya kasus Covid-19 di luar Tiongkok. Investor global menarik penempatan dananya di pasar keuangan negara berkembang dan mengalihkan kepada aset keuangan dan komoditas yang dianggap aman seperti UST Bond dan emas. Kondisi ini kemudian menekan pasar keuangan dunia dan memberikan tekanan depresiasi cukup tajam pada banyak mata uang global, termasuk Indonesia.

Bank Indonesia memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah dan otoritas lain dalam melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah dan memitigasi dampak risiko Covid-19 terhadap perekonomian domestik.

Pemerintah telah dan akan terus meningkatkan ruang stimulus fiskal dan memberikan kemudahan berusaha di sektor riil termasuk kegiatan pariwisata dan ekspor-impor. Sehingga dapat menopang pertumbuhan ekonomi. Bank Indonesia terus konsisten menjaga stabilitas moneter, nilai tukar rupiah, dan pasar keuangan, serta mendorong momentum pertumbuhan ekonomi. Otoritas Jasa Keuangan menempuh kebijakan untuk melakukan stabilisasi pasar saham serta terus memperkuat ketahanan industri perbankan dan jasa keuangan lain.

Pada RDG 19-20 Februari 2020, Bank Indonesia telah menempuh berbagai kebijakan untuk memitigasi risiko Covid-19. Suku bunga kebijakan, BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) diturunkan sebesar 25 bps menjadi 4,75%. Strategi operasi moneter juga terus diperkuat guna menjaga kecukupan likuiditas dan mendukung transmisi bauran kebijakan yang akomodatif.

Dalam rangka memperkuat koordinasi dan berbagai langkah kebijakan yang telah diambil sebelumnya, Bank Indonesia menempuh beberapa langkah kebijakan lanjutan untuk menjaga stabilitas moneter dan pasar keuangan, termasuk memitigasi risiko Covid-19. (bul)