Banjir Lotim, Gubernur Prioritaskan Perbaikan Rumah Warga yang Hancur

Selong (Suara NTB) – Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi mengatakan, pascatanggap darurat banjir bandang yang terjadi di Kecamatan Sakra Barat, Keruak dan Jerowaru, perbaikan rumah warga akan diprioritaskan. Penanganan rumah warga korban banjir yang hancur akan dimasukkan dalam program perbaikan rumah layak huni tahun 2018.

‘’Dan kalau bisa percepatan kita upayakan untuk percepatan. Sama-sama provinsi dan kabupaten selesaikan. Kita gotong royongkan,’’ kata gubernur ketika dikonfirmasi usai meninjau Posko Terpadu Bencana Alam Banjir Bandang di Kantor Camat Keruak, Selasa, 21 November 2017 siang kemarin.

Gubernur didampingi Danrem 161/WB, Kol. Inf. Farid Makruf, MA dan sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemprov NTB dan Pemkab Lotim. Di antaranya, Kepala Dinas PUPR NTB, Ir. Wedha Magma Ardhi, M.TP, Kepala Pelaksana BPBD NTB, Ir. Mohammad Rum, MT, Kepala Biro Umum Setda NTB, Drs. H. Fathul Gani, M.Si, Kepala Biro Kesra Setda NTB, H. Masyhuri, SH. Kemudian dari Pemkab Lotim tampak Kepala Pelaksana BPBD Lotim, Napsi.

Awalnya, gubernur beserta rombongan meninjau lokasi yang terkena cukup parah banjir bandang tersebut di Dusun Penendem, Desa Senyiur, Kecamatan Keruak, Lotim. Gubernur cukup lama berada di tempat ini. Sebelum menuju posko terpadu yang berada di Kantor Camat Keruak, gubernur memberikan bantuan makanan dan pakaian sekolah kepada warga korban banjir di Dusun Penendem.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebanyak  367 rumah warga yang rusak akibat banjir bandang itu. Terdiri dari rusak berat sebanyak 125 unit, rusak sedang 223 unit dan rusak ringan 19 unit. Selain itu, ada 14 jembatan dan satu masjid yang rusak. Banjir juga menyebabkan 643 KK atau lebih dari 2.280 jiwa terdampak langsung dari banjir bandang.

Daerah yang paling parah terdampak banjir adalah Kecamatan Keruak yang meliputi 10 desa yaitu Desa Setungkep Lingsar, Selebung Ketangge, Ketapang Raya, Ketangge Jeraeng, Batu Putik, Sepit, Senyiur, Mendana Raya, Batu Rampes, dan Bintang Oros.

Dampak banjir bandang di Desa Sepit Kecamatan Keruak mengakibatkan 15 rumah rusak berat, 65 rumah rusak sedang, 15 rumah rusak ringan, dan 4 jembatan rusak. Sedangkan di Desa Senyiur, banjir bandang merusak 47 rumah rusak berat, 25 rumah rusak sedang, dan 2 jembatan rusak.

Ditanya mengenai penyebab banjir, gubernur mengatakan berdasarkan penuturan dari warga bahwa seumur hidup mereka baru pertama kali terjadi banjir. Ia menjelaskan masing-masing bencana pasti ada penyebabnya. Menurut gubernur, banjir bandang yang melanda beberapa kecamatan di Lotim bagian selatan itu lantaran adanya embung yang jebol.

‘’Banjir bandang itu kan karakternya dia datang sebentar tapi biasanya warga sedikit yang kena tapi harta benda itu banyak. Sekarang, embung itu harus kita perbaiki. Jadi nanti dari Dinas PU, Dinas Pertanian kita minta itu diprioritaskan sebagai bagian dari perbaikan embung,’’ ucapnya.

Orang nomor satu di NTB ini mengatakan pada daerah aliran sungai, ada beberapa jembatan antar kampung yang tidak cocok dengan kondisi sekarang. Dimana, jembatan yang dibuat masih menggunakan pilar di bagian tengah jembatan.

“Itu yang menghalangi air ketika banjir. Jadi dia nyebar, tampias. Jadi, jembatan ke depan itu tak boleh ada penghalang (pilar). Sehingga air itu betul-betul mengalir. Itu jembatan usainya sudah puluhan tahun,” katanya.

Gubernur menyatakan, ia bersyukur pascabanjir Dinas Kesehatan NTB maupun Lombok Timur sudah turun ke lokasi. Menurutnya, keberadaan petugas kesehatan ini cukup penting mengingat pascabanjir banyak anak-anak kecil yang rentan terkena penyakit.

‘’Masih tersisa tiga hari tanggap darurat. Tanggap darurat ini kita menangani hal-hal yang paling krusial. Terutama penyelamatan, kesehatan, pembersihan sarana publik maupun milik pribadi,” pungkasnya. (nas)