Banjir di NTB Terjadi Karena Hutan Gundul

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Anggota DPR RI Dapil NTB, H. Rachmat Hidayat, meniLai habisnya hutan penyangga dan hutan primer di NTB menjadi penYebab terjadinya bencana banjir dan longsor, termasuk di Pulau Sumbawa.

“Hutan penyangga dan hutan primer sudah lama habis dan gundul. Sudah begitu di punggung hutan dibuat jalan. Seperti di Bima dan Dompu. Boleh bercocok tanam dengan tidak menebang hutan. Dulu waktu zaman orang tua kita, kerbau dan sapi masuk hutan. Sekarang mana ada karena hutannya tidak ada lagi. Hutan pelindung pun habis,”cetusnya di sela sela memberikan bantuan bagi korban banjir di Wisma Daerah, Selasa, 14 Februari 2017.

Iklan

Rachmat tidak menyalahkan program penanaman jagung pemerintah. Namun mestinya tidak membabat hutan. Termasuk tanah tanah kemiringan agar tidak dihabisi. Seperti di Dompu yang memaksa menanam jagung di kemiringan 45 derajat. Ia pun memberikan solusi khusunya bagi Sumbawa untuk membuat hutan baru untuk menangkal banjir.

Bupati Sumbawa, H. M. Husni Djibril, menegaskan, program penanaman jagung yang ditargetkan pusat untuk Sumbawa bukanlah untuk merusak hutan. Sebab areal tanaman jagung di Sumbawa bisa digenjot sampai 258 hektar untuk mencapai produksi 2 juta ton pada 2018 tanpa merusak hutan. Dengan memaksimalkan lahan yang ada.

“Kita memang diberikan izin penanaman jagung hingga di kemiringan 15 derajat. Namun tanaman jagung di kita tetap harus ada hutan penyanggahnya. Kita juga maksimalkan lahan yang ada untuk menanam jagung tanpa merusak hutan. Misalnya sawah yang bisa tiga kali tanam setahun, bisa kita gunakan untuk menanam jagung dua kali. Jadi hutan tidak kita sentuh,” tukasnya. (arn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here