Banjir dan Genangan, PR yang Belum Tuntas

Mataram (Suara NTB) – Pada pertengahan 2015 lalu, banjir menerjang beberapa wilayah Kota Mataram. Salah satu wilayah terparah ialah Kelurahan Babakan. Dimana ketinggian air mencapai dada orang dewasa. TRC dari BPBD Kota Mataram dan Tagana Disosnakertrans Kota Mataram saat itu dikerahkan, termasuk menurunkan perahu karet memantau wilayah terdampak banjir. Pada November 2016, Lingkungan Punia Saba, Kelurahan Punia juga tergenang akibat meluapnya air dari saluran yang ada di Jalan Sriwijaya. Air sampai masuk ke dalam rumah warga.

Akhir pekan kemarin, banjir kembali menerjang hampir seluruh wilayah kota akibat hujan deras melanda dari pagi hingga sore hari pada Sabtu (10/12). Berdasarkan pantuan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram, semua wilayah Kota Mataram tergenang. “Hampir seluruh wilayah kota tergenang,” kata Kepala BPBD Kota Mataram, Dedi Supriyadi kepada Suara NTB, Sabtu (10/12)

Iklan

Di Kelurahan Mandalika, Sandubaya, sedikitnya 85 rumah di tiga lingkungan terendam. Air juga menggenangi jalan-jalan lingkungan di beberapa wilayah. Kendati kondisinya demikian, Pemkot Mataram belum mengkategorikan sebagai banjir, melainkan hanya genangan. “Belum bisa dikatakan banjir,” ujar Dedi. Menurutnya air bisa surut dalam hitungan jam sehingga belum bisa dikategorikan banjir.

Persoalan banjir dan genangan ini masih menjadi pekerjaan rumah (PR) Pemkot Mataram yang belum bisa dituntaskan hingga saat ini. Salah satu penyebabnya ialah kondisi saluran yang disebut tak bisa lagi menampung debit air sehingga meluap ke jalan. Selain itu, kondisi saluran juga banyak yang tersumbat akibat sampah.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Mataram, Ir. H. Mahmuddin Tura kepada Suara NTB menyampaikan, tergenangnya hampir seluruh wilayah Kota Mataram pada akhir pekan kemarin karena meluapnya Sungai Ancar sehingga menggenangi kawasan sekitarnya. Meluapnya air Sungai Ancar karena curah hujan sangat tinggi dan merata di semua wilayah Kota Mataram. “Daerah hulu juga hujan sehingga kiriman air yang masuk Kota Mataram juga cukup besar,” jelasnya. Wilayah yang paling terdampak disebutkan Mahmuddin yaitu Sekarbela, Kekalik Jaya, Tanah Aji, Gomong, Karang Ujung, dan Karang Taliwang.

  Imigrasi Mataram Kenalkan Paspor Ramah HAM ke Difabel

Saluran di beberapa wilayah juga perlu pembenahan. Perbaikan saluran drainase ini belum menjadi prioritas Pemkot Mataram tahun ini, melainkan tahun depan. “Daya tampung drainase kita ini sudah ndak mampu menampung air hujan yang begitu besar,” jelasnya. Pada 2017 mendatang, Pemkot Mataram akan mendapatkan Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar Rp 69 miliar. DAK ini akan dimanfaatkan untuk perbaikan jalan dan juga drainase yang ada di Kota Mataram. Tahun depan, perbaikan drainase ini akan menjadi prioritas mengingat rata-rata kondisi jalan di Kota Mataram telah dalam kondisi baik. Perbaikan drainase ini menjadi prioritas sebagai salah satu upaya mengatasi banjir dan genangan.

Perbaikan saluran juga perlu dilaksanakan secara komprehensif untuk mengatasi genangan dan banjir. Perbaikan saluran di Kota Mataram disampaikan Mahmuddin harus terintegrasi semua. Rencana induk perbaikan saluran drainase telah dibuat, tapi pelaksanaan fisik tak bisa dilaksanakan serentak namun membutuhkan waktu selama lima tahun, dan itupun tergantung anggaran. Keberadaan saluran drainase yang ada saat ini belum maksimal mengatasi genangan karena belum tertangani semua. “Pelan-pelanlah kita tunggu sampai anggarannya tersedia,” tambahnya.

Ia menyebutkan saluran yang belum tertangani cukup banyak. Panjang saluran di Kota Mataram sekitar 400 kilometer baik saluran irigasi dan drainase. Saluran drainase juga ada tiga kategori; sekunder, primer, dan tersier. Tiga jenis saluran drainase ini harus terhubung. Drainase yang harus mendapat penanganan awal ialah saluran drainase primer yang berada di jalur-jalur utama sehingga air dari jalan bisa lancar masuk ke saluran atau sungai. Saat ini masih banyak juga saluran primer yang belum tertangani atau masih di bawah 50 persen.

Anggaran dari Pemkot Mataram sendiri untuk penanganan saluran ini cukup kecil. Anggaran yang tersedia juga digunakan untuk biaya operasional serta upah THL (Tenaga Harian Lepas) atau pasukan biru. Jumlah anggaran disebutkan Mahmuddin tidak tetap setiap tahun dan tahun ini hanya Rp 3 miliar yang dikhususkan untuk pasukan biru dan operasional, serta fisik Rp 1 miliar. Jumlah pasukan biru sebanyak 225 orang baik yang bekerja untuk saluran irigasi, drainase, dan sungai-pantai. Drainase di lingkungan banyak yang belum tersentuh karena perbaikan jalan lingkungan yang masih menjadi prioritas utama. (ynt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here