Bangunan Pasar Seni dan Kuliner di Lingsar Tak Terawat

Bangunan pasar seni dan kuliner di areal Pura Lingsar ini kumuh dipenuhi tanaman semak belukar. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Pagu anggaran untuk pembangunan proyek art shop (pasar seni) dan kuliner serta beberapa fasilitas di areal Pura Lingsar Kecamatan Lingsar Lombok Barat (Lobar) mencapai Rp 4 miliar lebih. Akan tetapi yang terkontrak sesuai dengan pemenang lelang mengacu penawaran terendah saat itu, anggaran  untuk pembangunan proyek tahun 2016 ini mencapai Rp 3,150 miliar lebih.

Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata pada Dinas Pariwisata Lobar, I Gede Aryana Susanta S.Sos., menjelaskan, pembangunan fasilitas di areal Pura Lingsar berawal dari adanya usulan masyarakat tahun 2013 lalu. Ada proposal dari pihak krama pura untuk penataan kawasan tersebut. Usulan ini juga masuk dalam musrenbang. Pihaknya pun menindaklanjuti dengan kajian dan turun ke lapangan, bahwa memang kawasan ini kumuh.

Iklan

‘’Awalnya, proyek ini dibangun menggunakan dana pinjaman, namun batal. Lalu masuk 2015 juga tak terlaksana, karena terjadi kasus menimpa bupati saat itu. Akhirnya bisa diajukan masuk pertengahan tahun 2015 untuk pengerjaan tahun 2016 dengan pagu Rp 4 miliar,’’ akunya, Kamis, 6 Februari 2020.

Akhirnya proyek pun dikerjakan. Namun tidak bisa membangun semua fasilitas sesuai desain perencanaan. Dari rencana pada perencanaan awal, total yang dibangun 18 art shop, lapak kuliner enam unit, ditambah lagi parkiran. Dengan  pagu anggaran rp 4 miliar tersebut, hanya bisa membangun 12 unit masing-masing enam kuliner, enam art shop dan satu areal makan terbuka serta toilet. Sedangkan parkir hanya pemadatan dari tanah sawah tersebut.

Dari desain perencanaan awal, ujarnya, masih ada kekurangan bangunan 12 kuliner dan art shop dan parkir. Menurutnya dasar dibuat desian perencanaan tersebut tahun 2013-2014, akan tetapi terealisasi tahun 2016, sehingga otomatis direview perencanaan, karena ada kenaikan harga.

Dari pagu anggaran Rp 4 miliar proyek tersebut, tambahnya, yang terkontrak Rp 3,150 miliar, sedangkan sisanya Rp 850 juta dibuang di penawaran. Sebab rekanan yang memenangkan tersebut dengan penawaran Rp 3,150 miliar. “Sekitar Rp 850 juta dibuang di penawaran,” jelasnya.

Setelah selesai dibangun, pihaknya ingin menindaklanjuti untuk pembentukan pengelola, namun batal karena ada kendala non teknis pergantian pengurus krama pura yang diajak kerjasama. Di satu sisi kerjasama tidak bisa dengan pengurus sementara. Namun pihaknya sejauh ini sudah melakukan upaya pembentukan pengelola dengan mempercepat pengurus krama pura yang definitif. “Sehingga sejak 2016-2020 bangunan ini belum dimanfaatkan,” jelas dia. (her)