Bangun Sekolah Botol, Tangani Sampah Tak Sekadar Jargon

Para guru di TK Rinjani Tetebatu sedang memasukkan potongan-potongan sampah ke dalam botol yang akan digunakan untuk membangun dinding sekolah. (Suara NTB/rus)

Banyaknya sampah plastik yang dibuang sembarangan mesti jadi perhatian kita bersama. Jangan sampai, sampah plastik ini menjadi masalah yang menyebabkan kelestarian lingkungan terganggu dan penanganan sampah tak sekadara jargon.

INILAH menjadi atensi Kepala Taman Kanak-kanak Rinjani Dusun Orong Gerisak Desa Tetebatu Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur (Lotim), Husniati. Dirinya ingin membuktikan menangani sampah plastik tak sekadar jargon, tapi memberikan contoh pada anak didiknya dan masyarakat cara penanganan sampah yang baik dan benar.

Iklan

Dalam merealisasikan tekadnya, Husniati berencana membangun sekolah botol di tempatnya mengajar. Dibutuhkan sekitar 3 ribu botol bekas air mineral ukuran 1.500 liter.

Menjawab Suara NTB, Sabtu, 22 Februari 2020, Husniati menerangkan sudah ada desain sekolah ukuran 8 x 6 meter yang akan dibangun. Perancangnya, merupakan orang Brazil yang membantu Husniati membangun sekolah dari dengan berbahan sampah tersebut. “Saat ini desainer saya ini sedang berada di Vietnam,” ucapnya.

Rencana membangun sekolah botol ini sedang dalam tahap persiapan. Namun, tidak saja botol bekas yang akan digunakan, bahan-bahan lainnya juga berasal dari sampah plastik juga dipakai.

Saat ini, ujarnya, terdapat sebanyak 900 botol kosong sudah terkumpul. Terdapat lebih dari 500 botol diisi sampah yang dipotong-potong setelah sebelumnya dibersihkan oleh tenaga pengajar dan warga setempat.

Mengingat banyaknya botol yang harus dikumpulkan, Husniati melakukan beberapa cara. Di antaranya, menukar botol dengan durian. Dalam hal ini, pihaknya mempersilakan siapa saja menukar durian dengan botol dan sebanyak 20 botol bekas bisa ditukar satu durian.

Pembangunan sekolah dengan bahan baku sampah ini dikatakan Husniati menjadi salah satu cara nyata untuk memerangi sampah. Pihaknya tidak ingin penanganan sampah tidak sekadar jargon.

Upaya yang dilakukan TK Rinjani Tetebatu ini, 61 siswanya dan para saat ini sudah orang tuanya menyadari sampah juga ada manfaatnya. Dipastikan sudah tidak ada lagi yang membuang sampah sembarangan. Sampah yang dihasilkan di rumah pun dibawa ke sekolahnya.

Adapun pembangunan sekolah ini rencana akan mulai pasca lebaran Idul Fitri mendatang. Husniati yang juga pelaku wisata di Orong Gerisak Desa Tetebatu ini menyebut desain bangunan sekolah botol ini bertingkat. Karenanya, setelah selesai tidak kemudian diam. Sekolah botol ini pun ke depan ditarget bisa mendatangkan uang. “Kita rencana akan bangun warung di lantai dua,” papar pemilik Terrace Homestay Tetebatu ini menambahkan.

Pihaknya yakin, hasil pembangunan miniatur sekolah menggunakan botol ini menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan. Salah satu caranya, bisa menjadi tempat berswafoto. Apalagi, di lokasi pembangunan sekolah ini juga terlihat jelas pemandangan Gunung Rinjani di sebelah timur.  (rus)