Bangun Penginapan Mewah, Investor Kapling Lahan di Segara Anak Rinjani

Disyon Toba (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Keinginan investor menggarap sebagian dari zona di Danau Segara Anak, Gunung Rinjani Lombok tak tanggung tanggung. Nilai investasinya mencapai Rp 4,55 miliar untuk membangun fasilitas penginapan mewah di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) ini.

Pada presentasi awal, PT. Rinjani Glamping Indonesia (RGI) di hadapan Balai TNGR, terungkap bahwa nilai investasi sebesar itu untuk beberapa item pembangunan sarana penginapan mewah. Fasilitas itu akan dibangun di atas lahan 10 persen dari empat hektar yang diajukan.

Iklan

Diantaranya, pembangunan deluxe tents atau tenda mewah sebanyak 20 unit, setara nilai investasi Rp3 miliar, pembangunan small waterhouse sebanyak dua unit senilai Rp150 juta, pembangunan office tents senilai Rp500 juta. Masih dengan konstruksi tenda, akan dibangun juga dapur dan tenda makan senilai Rp500 juta. Investor juga akan melengkapi dengan fasilitas toilet sebanyak dua unit senilai Rp100 juta.

Danau Segara Anak yang terhampar seluas 11,3 km2 adalah magnet bagi wisatawan minat khusus. Sehingga investor melengkapi dengan view deck dan balkon dibangun menghabiskan dana Rp50 juta. PT. Rinjani Glamping Indonesia yang diketahui milik brand outdoor ware Consina juga berencana kapling lahan di sekitar pinggir danau untuk pembangunan kawasan camping ground senilai Rp200 juta.

Keseriusan PT. Glamping untuk menggarap kawasan konservasi ini nampak dari keinginan membangun fasilitas pelengkap seperti instalasi listrik dan instalasi air bersih masing masing senilai Rp75 juta. Rentetan rencana pembangunan ini disampaikan di hadapan Kepala TNGR Dedy Ashriady, instansi pemerintah bidang wisata, pemerhati lingkungan, termasuk organisasi TO dan guide.

Direktur PT. RGI, Dyson Toba usai presentasi, kepada wartawan menjelaskan maksud perusahaannya mendirikan bentuk investasi baru di Rinjani. Niatnya, ingin menghadirkan hal baru dalam pengelolaan wisata. “Naik gunung itu tidak hanya naik, turun, selfie, selesai. Tapi ada keinginan baru yang lebih nyaman dan lebih lama di Rinjani. Kita ingin sesuatu hal yang baru. Tidak melawan alam, tidak ada efeknya ke teman teman pengusaha,” kata Dyson.

Pro dan kontra yang muncul justru menurutnya bagus, karena semua pihak sangat memperhatikan Rinjani. Tapi ia menjamin, pola Glamping tidak akan merusak alam.

“Konsep hidup saya dari dulu tidak mau merusak alam. Tapi ini konsep baru, bagaimana manusia dekat dengan alam. Nah, dekat dengan alam bukan berarti manusia hidup di luar alam. Tapi damai bersama alam,” ujarnya.

Wacana membangun fasilitas penginapan dan camping area bukan hal baru. Diakuinya sudah pernah mengajukan tahun 2017 lalu melalui Kementerian ESDM dan Balai TNGR. Sementara dari unsur pemerintah dipastikannya mendukung konsep Glamping tersebut, karena dianggap model pengelolaan pariwisata yang baru.

Meski konsep baru, tapi tidak berarti tertutup ruang kolaborasi. Trekking organizer bisa ikut mempromosikan Glamping dan mendapat fee dari manajemen. Sehingga ia berharap tidak ada kekhawatiran soal matinya usaha lain.

“Misalnya, paket tiga hari dua malam lewat jalur mendaki. Tapi tamunya mau nambah nginap di Glamping, silakan. Nantikan guide dapat fee,” sebutnya.

Hadirnya konsep PT. RGI dalam pengelolaan Rinjani ini, diharapkan bisa mengubah cara pandang tujuan mendaki Rinjani. Tidak hanya sekedar selfie dan pamer ke teman teman sebayanya. “Tapi dengan konsep ini, wisatawan bisa lebih menikmati keindahan Rinjani,” jelasnya. (ars)