Bangku Kurang dan Bolong, Murid SD di Gangga Belajar Sambil Berdiri dan Lesehan

Akibat kekurangan bangku, murid SDN 5 Gangga belajar sambil berdiri. Bahkan ada murid yang belajar sambil duduk lesehan di lantai. (Suara NTB/ari)

Aktivitas belajar mengajar dalam kondisi memprihatinkan masih ditemui di sekolah-sekolah di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Jumlah kebutuhan bangku dan meja tidak sebanding dengan rasio murid, menyebabkan siswa harus belajar berdesakan. Karena capek berdesakan, beberapa siswa memilih berdiri, ada pula yang duduk lesehan.

Potret itu terlihat di SDN 5 Gondang, Kecamatan Gangga. Di sekolah ini, seluruh RKB sementara masih terbuat dari material baja yang dibangun saat tanggap darurat bencana gempa tahun 2018 lalu. Pihak sekolah kekurangan bangku, meja, dan ruang kelas. Ruang guru pun, hanya 1 ruang di mana guru duduk berjejal.

Iklan

Guru Kelas 1, Denda Mona Andriani, dikonfirmasi wartawan Kamis, 5 Maret 2020, tak menyangkal sarana dan prasarana SDN 5 Gondang tidak layak. Murid kelas 1 yang diasuhnya, tidak tercukupi meja dan bangku. Tak pelak, muridnya duduk berdesakan di bangku panjang yang diatur berderet. “Kekurangan bangku dari dulu, anak-anak ada yang belajar berdiri sejak setelah gempa,” kata Denda.

Tidak hanya bangku, ruang belajar juga kurang. Pihak sekolah pun menyiasati satu ruang gudang, dijadikan ruang kelas. Tidak ada bangku, sekolah pun menggelar terpal sebagai alas. Ruang ini hanya bisa digunakan saat cuaca normal. Jika hujan, ruangan tidak bisa digunakan karena lantai ruang kelas sejajar dengan halaman. Air hujan secara otomatis masuk ke ruang kelas.

“Total murid 219 orang, dengan 8 rombel (rombongan belajar). Kelas 1 dan kelas 2 masing-masing dua rombel,” sambung Guru Kelas, Naslim Susianto.

Menurut Naslim, kekurangan bangku tidak hanya terjadi di kelas 1 dan 2, tetapi di semua kelas. Di kelas 6, beberapa murid yang menggunakan bangku besi berbusa tapi bolong, harus menambalnya dengan potongan papan bekas bangku untuk bisa diduduki. Setidaknya dua sampai tiga murid kelas 6 berkreasi dengan cara itu.

Ia memperkirakan, kekurangan bangku dan meja di tiap kelas antara 7-8 unit, sehingga butuh waktu untuk memenuhi semua kebutuhan di tiap kelas.

“BOS sudah digunakan, tidak bisa arahkan ke sana, ada perlengkapan sekolah lain yang didahulukan. Bendahara BOS tetap anggarkan, pernah dibeli 10 untuk kelas 2,” sambungnya.

Ia membantah jika pihak sekolah tidak mempedulikan kondisi anak-anak yang belajar sambil berdiri. Sebaliknya pihak sekolah tidak bisa optimal mengalokasikan dana BOS untuk kebutuhan bangku dan meja. Sebab prasarana pendukung lain yang lebih prioritas masih harus dipenuhi.

“Kami berusaha memberi yang terbaik.  Dalam keadaan kami seperti ini, meja dan bangku diisi oleh 3-4 anak.” “Kadang anak nyaman seperti itu, disuruh duduk tapi memilih berdiri,” imbuhnya.

Untuk diketahui, SDN 5 Gondang dikenal cukup berprestasi. Di beberapa mata lomba akademik dan non akademik, sekolah ini mewakili Kecamatan Gangga untuk lomba tingkat kabupaten.

Prestasi tingkat kecamatan tahun 2020 yang diraih yaitu juara I di 9 mata lomba (juara umum), meliputi PPKN, Bahasa Indonesia, Lagu Solo, Tari Kreasi, Lomba Ceramah Islam, sepak takraw, puitisasi Al Qur’an, dan calista (baca tulis tangan) kelas 1. (ari)