Bangkitkan Ekonomi Pariwisata, APH Senggigi Dorong Kerjasama NTB, Bali dan NTT

Hermanto. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Ekonomi belum bergerak signifikan, meski kenormalan baru (new normal) telah diberlakukan. Apalagi aktifitas usaha yang beririsan langsung dengan sektor pariwisata. Kondisinya masih memperihatinkan. Harus ada langkah strategis, dimulai dari sekarang. Jangan menunggu pulih, kemudian bergerak. Pemerintah daerah mungkin sudah mengambil langkah seribu. Namun Asosiasi Pengusaha Hiburan (APH) Senggigi tetap mengingatkannya.

Suara NTB berkunjung dan mengamati aktivitas di  salah satu café di Senggigi akhir pekan kemarin. Tempat hiburan milik Ketua APH Senggigi, Hermanto. Tempat hiburan yang mempekerjakan puluhan orang ini sepi. Padahal jelang akhir pekan. Hanya segelintir tamu yang datang menikmati musik. Sebagian besar kursi tamu kosong. Padahal tempat ini tidak mengurangi pemakaian listriknya lebih dari 30.000 watt untuk membuat tamu nyaman. Namun hingga pukul 00.00 WITA, tetap saja sepi.

Perangkat audio dan visual yang disediakan tidak ada yang tak terpakai. Lampu-lampunya tetap menyala, para pekerjanya tetap standby. Dari tenaga kerja pengaman, pramusaji, demikian juga pemandu lagu. Belum lagi biaya-biaya lain untuk perawatan tempat hiburan seluas itu, kebersihannya juga tetap dijaga. Semuanya membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit.

“Tapi aktivitasnya harus tetap ada. Biar tidak mati sama sekali,” kata Hermanto. Usaha hiburan saat ini masih “sakit”. Akibat pandemi Covid-19. Pengusaha-pengusaha yang buka, dan berusaha bertahan ini biasanya didukung oleh usaha-usaha lain. Subsidi silang. Saat ini ada delapan tempat hiburan di wilayah Senggigi yang mulai buka. Kendati biaya operasional yang dikeluarkan jauh tak sebanding dengan pendapatannya.

Pemkab Lombok Barat, kata Herman, sudah melakukan berbagai upaya untuk menghidupkan Senggigi. Namun harus semua bekerjasama. Kabupaten dan provinsi. Berbicara Senggigi bukan hanya berbicara Kabupaten Lombok Barat. namun untuk semua. Termasuk mendukung Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika.

Karena itu, Herman mengatakan, harus dibangun kerjasama pariwisata yang kuat. Terutama tiga provinsi sister, Bali, NTB dan NTT. Kata Herman, Bali terus mengembangkan dirinya, jika pembangunan pariwisata makin massif ke Nusa Lembongan dan Nusa Penida, ia mengkhawatirkan, Gili Trawangan dan gili-gili lain akan tenggelam pamornya. “Karena saya juga pelaku pariwisata. Gili Trawangan bisa tidak laku lagi kalau Nusa Penida dan Nusa Lembongan hidup,” ujarnya.

Karena itu, ia berharap Bali tidak dianggap sebagai pesaing. Tetapi Bali adalah barometer pariwisata Indonesia, bahkan dunia. Untuk itu, harus ada kerjasama yang kuat antara pemerintah provinsi NTB, Bali dan NTT. Karena di NTT, pulau Komodo sudah sangat mendunia. NTB akan memiliki ikon pariwisata dunia. KEK Mandalika dan MotoGP. Ketiga provinsi ini bisa kawin, membuat paket-paket pariwisata bersama untuk menghidupkan seluruh usaha irisan sektor pariwisata.

Sebagai persiapan menyambut MotoGP 2021 mendatang, Hermanto mengatakan usaha hiburan di Senggigi juga akan membuat konsep-konsep yang berkaitan dengan branding MotoGP. Misalnya, membuat non box dengan tema MotoGP, meja dan kursi tamu juga menggunakan nama-nama pembalap motoGP. Pramusaji juga menggunakan kostum-kostum MotoGP. Namun persiapan tersebut tentunya membutuh tambahan beban operasional. Saat ini pengusaha hiburan sedang berusaha bangkit. Harapannya, pemerintah daerah, demikian juga aparat tetap memberikan dukungan terbaiknya untuk masa depan ekonomi dan pariwisata yang lebih baik di Lombok, NTB umumnya.(bul)