Balai PSDAH Intensifkan Piket Antisipasi Macetnya Air Irigasi

Petugas yang piket untuk memastikan distribusi air lancar dari hulu ke hilir.(Suara NTB/ist)

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Balai Pengelolaan Sumber Daya Air dan Hidrologi (PSDAH) Pulau Sumbawa menetapkan jadwal piket untuk mengantisipasi terjadinya kemacetan distribusi air irigasi. Upaya ini dilakukan guna menyukseskan panen pada Musim Tanam (MT) kedua tahun 2021 ini.

“Agar air irigasi bisa terdistribusi dari hulu ke hilir, menjelang panen MT kedua ini kami telah menetapkan sistem jadwal piket,” ungkap Kepala Balai PSDAH Pulau Sumbawa, Med Manjarungi, ST, M.T, Jumat, 30 Juli 2021.

Iklan

Dalam sistem jadwal piket ini, pihaknya sudah membagi masing-masing kelompok yang bertugas pada pagi dan sore hari. Sebagai contoh di Batu Bulan Kiri, dibagi menjadi empat kelompok dengan pola pembagian jam. Ada yang dari pagi sampai sore dan ada yang dari sore sampai malam. “Jadi ada yang dari jam 6 sampai jam 4 sore, dan ada yang dari jam 4 sore sampai jam 2 malam. Dan ini juga berlangsung di daerah KSB kemudian di Bima dan Dompu. Karena dalam pemetaan sistem ini, kita sudah membagi kelompok,” bebernya.

Menurut Med, upaya ini dilakukan semata-mata untuk mengantisipasi macetnya air irigasi yang terdistribusi dari hulu ke hilir. “Dengan adanya jadwal piket ini petugas piket  bisa membersihkan sampah-sampah yang tertahan di pintu air. Kemudian yang kedua juga memastikan air terdistribusi sesuai dengan jadwal pola tanam yang telah kita sepakati  waktu rapat di awal musim tanam dua,” terangnya.

Dalam praktiknya, seperti di Batu Bulan Kiri, sesuai jadwal petugas piket melakukan kegiatan gotong royong  sekaligus silaturrahmi dan memberikan edukasi kepada petani. Yakni tidak selamanya tanaman padi ini airnya harus penuh. “Jadi padi ini adalah tanaman yang cuman butuh air saja, tidak harus sampai terendam lama di hulu. Sehingga teman-teman yang berada di hulu bisa membagi Ketersediaan air ke hilir. Sehingga dengan pemahaman seperti ini, jadwal pola tanam musim tanam dua yang kita sepakati di awal, dari hulu sampai hilir sawah bisa terairi airnya sesuai dengan target,” ujarnya.

Dengan suksesnya MT kedua nantinya, pihaknya berharap dapat dilanjutkan dengan MT tiga. Tentunya persiapan MT tiga nantinya akan lebih berat. Karena ketersediaan air bendungan dan embung yang kurang, maka bisa dipastikan pola tanamnya mungkin jadwalnya diatur. “Artinya yang biasanya 70 persen padi, mungkin kita rubah nanti sistemnya yang 70 persen itu lebih ke arah palawija atau yang lainnya. Sehingga ketersediaan air untuk proses tanam ketiga itu tercukupi,” pungkasnya.(ind)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional