Baihaqi Bergerak Bersama Milenial Selesaikan Kemiskinan Kota

Generasi milenial menghadiri diskusi dengan Calon Walikota Mataram H Baihaqi, di salah satu tempat ngopi di Kota Mataram, Jumat (23/10) lalu. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Mengapa banyak milenial masih apatis melihat politik. Karena politik dianggap lebih banyak kebohongan dan kelicikannya, ketimbang kebaikannya. Hal itu diungkapkan oleh pengamat Politik Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat) Inka dalam acara Milenial Talk: Ngopi bareng Aqi, Jumat, 23 Oktober 2020.

Pandangan tersebut kata Inka, turut dipopulerkan pemikir politik dunia Niccolo Machiavelli. Dalam pandangan Niccolo politik identik dengan kebuasan. Selayaknya sifat singa, identik dengan buas, ganas, dan menggertak. Maka penguasa harus cerdik, licik, licin, dan kadang tangan besi. “Itu diungkapkan dalam bukunya Il Principe, dia mengatakan penguasa itu harus mengadopsi sifat singa. Jadi kedengarannya ngeri kan,” ujarnya.

Iklan

Ideologi atau pandangan politik ini rupanya banyak muncul di benak generasi milenial. Sehingga tidak sedikit memilih menghindar sampai tidak mau tahu tentang politik. “Padahal politik itu menentukan maju atau mundurnya sebuah negara,” tegasnya. Pada dasarnya persepsi tentang politik sebenarnya tergantung bagaimana setiap orang memaknai. Namun hal yang fundamental dan tidak bisa dihindari generasi milenial mau tidak mau akan menjadi penyambung estafet pembangunan bangsa. “Dan harus  berpolitik,” ulasnya.

Pengamat politik berusia 38 tahun itu mengatakan politik tergantung siapa yang berkuasa. Sementara penguasa yang duduk di pemerintahan tergantung kepedulian orang-orang baik memilih pemimpin. “Sangat disayangkan bila milenial tidak menggunakan hak suaranya yang dilindungi undang-undang untuk memilih pemimpin yang baik,” imbuh dosen Ilmu Pemerintahan itu.

Pemimpin yang buruk dapat lahir dari keputusan milenial tidak mau tahu dengan politik. Lahirnya pemimpin penindas, mementingkan kepentingan diri sendiri dan kelompoknya serta tidak peduli pada rakyat. “Maka milenial harus melek politik, dalami gagasan para calon mana yang terbaik diantara pilihan yang ada, demi tongkat estafet kepemimpinan lebih baik,” pungkasnya.

Sementara itu, calon Walikota Mataram, H Baihaqi yang juga turut dihadirkan sebagai pembicara dalam acara itu mengatakan milenial tidak bisa sekadar melek politik. Tetapi harus melihat, mencermati, dan menganalisa gagasan. Sebagai pelaku politik, Aqi menawarkan gagasan membangun Kota Mataram yang lebih progresif.  Gagasan itu diyakini dapat menyelamatkan Kota Mataram dari jurang resesi ekonomi. Penyebab resesi tidak lepas dari munculnya Pandemi Covid-19. “Teman-teman mau percaya wabah ini ada atau tidak, itu terserah analisa masing-masing, tetapi yang tidak bisa kita hindari resesi ini akan terjadi,” ulasnya.

Beberapa analisa menyebut resesi akan berakibat pada goncangnya ekonomi negara.

Namun saat itu Indonesia berhasil selamat dan kembali bangkit, karena ditopang ekonomi kerakyatan. “Maka kedepannya nanti mari kita berpikir terobosan apa yang perlu kita buat di Kota Mataram ini,” tantangnya. Aqi lantas menawarkan menjadikan Mataram sebagai pusat enterpreneur. “Mataram Bisnis Center,” sebutnya.

Gagasan ini berangkat dari pengalaman bangsa menghadapi krisis 1998. Saat itu para wiraswata berkontribusi besar menyelamatkan bangsa dari krisis. “Maka kita perlu melakukan penguatan yang serupa menghadapi resesi nanti,” ujarnya. Ekonomi Kota Mataram lanjut Aqi belakangan melorot signifikan. “Dari 8,2 persen menjadi 4,7 persen,” terangnya.

Penyebab pertama karena bencana Gempa Bumi lalu. “Tetapi kita bisa recovery dengan cepat karena kita dapat banyak bantuan dari daerah lain, seperti Jawa, Bali, Jakarta, dan daerah lainnya,” tuturnya. Sementara Pandemi juga telah berakibat pada rapuhnya ekonomi bangsa. Maka untuk menghadapinya tidak bisa dengan menunggu bantuan dari daerah lain. “Resesi ini terjadi secara nasional, setiap daerah tentu akan sibuk menyelesaikan persoalan daerahnya,” ulasnya.

Karena itu Aqi optimis penguatan UMKM akan jadi solusi jitu. “Kita harus cetak pengusaha baru dan melahirkan banyak lapangan pekerjaan,” katanya. Jika H Baihaqi-Hj Baiq Diyah Ratu Ganefi (BARU) terpilih sebagai kepala daerah, maka trobosan pertama yang akan dibuat yakni mendorong lahirnya 5 ribu Pengusaha Baru di bidang UMKM. “Target kita pengusaha baru itu dari kalangan Milenial,” ulasnya.

Dalam satu kelurahan ditarget 100 pengusaha UMKM. “Jika satu UMKM saja dapat merekrut 10 orang, maka kita sudah bisa ciptakan 50 ribu lapangan pekerjaan,” ujarnya. Pria berlatar arsitek itu optimis 50 ribu lapangan pekerjaan bisa menjadi solusi bagi 9,6 persen angka kemiskinan di Kota Mataram. “Kalau 9,6 persen itu sekitar 42 ribu orang, saya kira sudah bisa ditutupi dengan 50 ribu pekerjaan itu,” tegasnya. (ndi/*)