Awig-awig sebagai Upaya Pencegahan Pernikahan Dini

Mahasiswa UMM wawancara denganKepalaDesaMarong di kediamannya belum lama ini. (Suara NTB/ist)

Isu pernikahan dini masih menjadi suatu perhatian khusus bagi Pemprov NTB, karena angka pernikahan anak di bawah usia 18 tahun cukup tinggi. Menurut Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, telah ditetapkan batas umur yang diperbolehkan melakukan pernikahan secara hukum yaitu ketika mencapai umur 19 tahun.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Susenas tahun 2020 kasus pernikahan dini yang paling tinggi di Provinsi NTB terjadi di Kabupaten Lombok Tengah di mana 47,58% perkawinan pada tahun 2020 dilakukan oleh anak usia di bawah 18 tahun. Kemudian urutan kedua adalah Kabupaten Lombok Timur 43,68%, Kabupaten Lombok Utara 33,39%, Kabupaten Lombok Barat 31,44%, Kota Mataram 29,02%, Kabupaten Sumbawa Barat 28,59%, Kabupaten Sumbawa 27,11, Kabupaten Bima 26,51, Kabupaten Dompu 25,77 dan Kota Bima 20,67%.

Iklan

Data tersebut menunjukkan pernikahan dini masih menjadi suatu permasalahan dan berdasarkan hasil penelitian kasus pernikahan dini ini juga dipengaruhi oleh tradisi atau kultur budaya. Menurut (Windia, 2016), salah satu adat yang masih dilestarikan oleh masyarakat suku Sasak adalah kawin culik atau dalam bahasa Sasak disebut “merariq”. Secara etimologis kata merariq di ambil dari kata curi. Merariq berarti memaling atau dalam bahasa Indonesia disebut menculik. Sedangkan secara terminologis, merariq mengandung dua arti: yang pertama, culik atau menculik. Ini adalah arti yang sebenarnya. Kedua, keseluruhan pelaksanaan perkawinan merupakan adat suku sasak. Kawin culik (merariq) merupakan tradisi yang berkembang pada masyarakat suku sasak

Sebelum melakukan ritual pernikahan, dan telah berkembang sejak abad 1.097 masehi. Tradisi kawin culik (merariq) tersebut dilakukan oleh pasangan yang ingin menikah, yaitu seorang laki-laki harus menculik pasangan perempuannya dalam waktu semalam. Pada awalnya tradisi kawin culik tidak dapat dilakukan secara sembarangan, karena terdapat 20 proses yang harus dijalani oleh pasangan sebelum melakukan pernikahan. Salah satu proses yang harus dilewati yaitu bagi seorang laki-laki harus mampu beternak dari seekor sapi kemudian dikembangkan menjadi 114 ekor. Sementara bagi perempuan diharuskan memiliki keterampilan menenun hingga 40 tepi. Seorang perempuan Sasak akan didatangi lebih dari satu laki-laki pada waktu yang bersamaan, dan diakhir pertemuan perempuan itu harus memberikan tanda khusus kepada salah satu laki-laki yang dipilih.

Namun seiring dengan perkembangan zaman pemahaman terhadap makna tradisi kawin culik tersebut telah mengalami pergeseran. Indikasinya adalah tidak ada lagi proses yang harus dilakukan oleh pasangan sebelum menikah, sehingga banyak masyarakat Sasak yang memilih melakukan perkawinan dengan cara kawin culik. Beberapa alasan yang melatar belakangi masyarakat sasak memilih perkawinan dengan menculik (merariq), yaitu masih menjadi tradisi yang memang telah ada dan sebagian besar dilakukan oleh masyarakat suku Sasak. Selain itu disebabkan adanya pertentangan dari orang tua mengenai hubungan yang dijalani, dan ketidaktahuan dari pihak perempuan bahwa akan diculik oleh pasangannya.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Mataram Dicky Harisandi dan Imansyah yang berasal dari Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota serta Anis Wiranda dan Ziha Sulistia yang berasal dari Prodi PPKN yang dibimbing oleh Baiq Harly Widayanti, ST., M.M., di Kecamatan Praya, Jonggat, Batukliang dan Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah.

Kepala Desa Marong, Santiaji, menjelaskan, kawin lari selain dipengaruhi oleh kultur budaya atau tradisi kejadian kasus pernikahan dini ini juga disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu :

  1. Faktor Keluarga. Kurangnya perhatian orang tua karena terjadi perceraian serta kekerasan dalam rumah tangga menyebabkan psikologi anak menjadi terganggu dan merasa tidak aman, sehingga memilih untuk mencari ketenangan dan keamanan dengan menikah.
  2. Faktor Pendidikan. Pendidikan sangat berpengaruh terhadap pernikahan dini, karena remaja akan memahami dampak kesehatan dari pernikahan dini dengan adanya pendidikan. Akan tetapi, kurangnya pendidikan akan dampak pernikahan dini, menyebabkan banyak remaja dibawah umur 19 tahun memilih menikah, dikarenakan remaja berpikir bahwa setelah menikah tidak akan dibebani oleh tugas-tugas sekolahnya. Selain itu, tidak adanya biaya untuk melanjutkan pendidikan menyebabkan sang anak putus sekolah dan tidak melanjutkan pendidikan, sehingga lebih memilih menikah.
  3. Faktor Ekonomi. Keterbatasan ekonomi orang tua juga menjadi penyebab terjadinya pernikahan dini, yaitu untuk mengurangi tanggungan keluarga orang tua tidak akan sungkan menikahkan anak secepatnya. Disamping itu anak-anak dibawah umur 19

tahun merasa kebutuhan mereka tidak terpenuhi, sehingga mereka mencari pasangan yang mampu menafkahinya.

  1. Faktor Teknologi (sosial media). Sosial media merupakan penyebab pernikahan dini yang paling banyak terjadi, bahkan di saat pandemic covid-19 saat ini. Dengan sosial media, anak bisa bertatap muka tanpa bertemu secara langsung. Tanpa pengawasan orang tua tidak jarang anak-anak dibawah umur 19 memahami cara mengakses situs-situs dewasa, sehingga mempengaruhi psikolgi anak.

Untuk menekan angka pernikahan dini, pemerintah telah menetapkan kebijakan anak yang menikah dibawah umur secara hukum tidak akan tercatat di Kantor Urusan Agama (KUA), sehingga tidak akan memperoleh buku nikah dan kartu keluarga. Selain itu pada beberapa desa untuk menekan angka pernikahan dini ini juga sudah diterapkan hukum adat atau awig-awig mengenai pernikahan dini.

Namun, dalam implementasinya secara umum masih belum efektif hal ini disebabkan oleh kurangnya kesadaran masyarakat akan pernikahan dini serta awig-awig yang ada seringkali tidak tertulis sehingga banyak masyarakat yang melalaikan awig-awig tersebut.

Dalam awig-awig pernikahan dini yang dimiliki oleh beberapa desa, isinya mengatur mengenai aturan jam malam tidak boleh midang atau berkunjung jika dibawah 19 tahun atau masih sekolah, memisahkan pasangan dibawah umur 19 tahun, dan memberikan sanksi sosial serta sanksi denda bagi yang melanggar aturan sosial tersebut. Sehingga dengan kondisi tersebut perlu adanya upaya mengoptimalkan kembali terkait dengan penerapan awig-awig mengenai pernikahan dini yang mengatur antara lain :

  1. Menerapkan aturan jam malam tidak boleh midang atau berkunjung jika umur masih di bawah 19 tahun, serta setelah Maghrib kecuali sudah meminta izin dan dalam urusan mendesak.
  2. Memisahkan kedua pasangan di bawah umur 19 tahun jika mengajukan izin pernikahan.
  3. Memberikan sanksi yang tegas sesuai dengan yang ada di Peraturan Desa berupa sanksi sosial, administrasi dan denda. (r)
AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional