Awalnya Enggan, Makin Lama Makin Sayang

M. Rizqil Falian Akbar. (Suara NTB/ist)

Selong (suarantb.com) – Berawal dari rasa enggan untuk mengikuti Program Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) karena memikirkan pelayanannya ribet justru kini ia makin sayang pada Program JKN-KIS ini. Dialah M. Rizqil Falian Akbar seorang pemuda kelahiran Dompu, Nusa Tenggara Barat, yang kini bekerja di salah satu perusahaan BUMN di Kabupaten Sumbawa.

Rizqi sapaannya, awalnya tidak tertarik terhadap Program JKN-KIS, karena banyak yang mengatakan pelayanannya ribet dan pasien JKN-KIS di bedakan pelayanannya.
“Awalnya saya sedikit enggan jadi peserta JKN-KIS, karena setiap bulan gaji saya di potong. Padahal saya belum tentu menggunakan, begitulah namanya manusia tidak luput dari kekeliruan,” cerita Rizqi kepada tim jamkesnews pada Kamis (06/02)

Iklan

“Jangan bilang enggan kalau belum kenal, jika sudah kenal bisa jadi sayang,” tambah Rizqi.
Proses perkenalannya terhadap JKN-KIS dimulai saat ia harus di larikan karena sakit demam tifoid atau lebih di kenal dengan tipes di salah satu rumah sakit di Pulau Sumbawa.

Tipes atau demam tifoid adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella thyphi,bakteri ini biasanya ditemukan di makanan atau minuman yang terkontaminasi atau bisa juga ditularkan dari orang yang terinfeksi.Demam tifoid atau tipes termasuk infeksi yang bisa menyebar ke seluruh tubuh dan mempengaruhi banyak organ, tanpa perawatan yang cepat dan tepat, penyakit ini bisa menyebabkan komplikasi serius yang berakibat fatal.

“Ketika saya merasa enggan dengan JKN-KIS ternyata Tuhan berkehendak lain dan menyadarkan saya pentingnya JKN-KIS. Saya merasakan sakit tipes dan dilarikan ke rumah sakit, setelah saya mencoba menggunakan di Rumah Sakit Allhamdulillah saya mendapakan pelayanan baik, pengobatan gratis sama sekali tidak ada bayar sepeserpun, sampai hari ini saya benar-benar sudah sehat kembali,” cerita Rizqi kepada tim jamkesnews.

Ia sempat terkejut melihat tagihannya nol rupiah ketika keluar dari rumah sakit.
“Sekarang saya sudah mengenal Program JKN-KIS jadi makin sayang,” tutup Rizqi. (r/*)