Audensi Benih Bibit Jagung Rusak dan Berjamur Gaduh

Bima (Suara NTB) – Penyaluran benih bibit jagung yang ditemukan rusak dan berjamur terus menuai polemik. Puncaknya Rabu, 14 November 2017, terjadi adu mulut antara sejumlah pemuda dengan pegawai Dinas Pertanian dan Perkebunan (Disperbun) Kabupaten Bima.

Kegaduhan tersebut berlangsung saat audensi di kantor Disperbun setempat, klarifikasi terkait proses tender hingga sistem penyaluran serta penyebab banyaknya benih bibit jagung rusak dan berjamur.

Iklan

Sebelum adu mulut yang berujung pada kerusakan sejumlah kursi plastik tersebut lantaran perwakilan pemuda meminta agar pihak pelaksana teknis pengadaan benih bibit jagung dihadirkan serta perwakilan Dinas pertanian Provinsi.

“Keinginan kami ini sesuai dengan apa yang dijanjikan oleh Kepala Disperbun kemarin. Makanya kami meminta agar perwakilan dua pihak ini dihadirkan,” ujar Perwakilan pemuda, Usman.

Selain itu pihaknya juga kecewa dan keberatan dengan sikap jajaran dinas setempat, yang tidak bisa menjelaskan jumlah keseluruhan anggaran pengadaan bibit benih tersebut.

“Jumlah anggaran ini tidak mampu dijawab pihak terkait. Tidak diindahkan, makanya kami spontan bereaksi,” katanya.

Sementara Sekretaris Disperbun Kabupaten Bima, Ir. M. Natsir menyesalkan insiden tersebut adu mulut dan kerusakan kursi tersebut. Seharusnya persoalan tersebut bisa dibacarakan dengan baik tanpa ada kegaduhan.

“Kami sudah akomodir keinginan untuk melakukan audensi, Tapi hal ini tidak diterima dengan baik,” katanya.

Menurut dia, persoalan tersebut sebenarnya tidak mesti dipertanyakan lagi karena pihaknya telah menindaklanjuti dengan melaporkannya terhadap Dinas Pertanian Provinsi selaku penangungjawab pengadaan.

“Persoalan ini sudah kita komunikasikan, sekaran sedang ditindaklanjuti,” ujarnya.

Natsir mengakui bibit benih jagung yang disalurkan tersebut rusak dan berjamur. Hanya saja, hal itu telah ditarik kembali. Apalagi pihak terkait berjanji akan menggantikan kembali.

“Sudah ditarik kembali. Yang jelas masalahnya sedang diatasi,” ujarnya.

Selain itu Natsir menegaskan bibit benih yang dibagikan tersebut wilayah domainnya pemerintah Provinsi. Pihaknya hanya melanjutkan penyaluran atau dropping sampai ketingkat petani.

“Ini adalah penyaluran tahap tiga. Dua tahap sebelumnya tidak ada masalah,” pungkasnya. (uki)